ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

Tampilkan postingan dengan label LAYANAN PRIMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAYANAN PRIMA. Tampilkan semua postingan
  • BELAJAR DARI PEMARAH


    Sejak mendirikan lembaga pendidikan, saya sudah ratusan kali ketemu orang yang marah-marah dengan segala ekspresinya, dengan segala sebab dan alasannya. Masa-masa sejak mendirikan sekolah merupakan episode pertunjukan kemarahan paling banyak dan paling sering yang  pernah kutemui seumur hidup. 
    Ada beragam ekspresi kemarahan. Ada yang kadarnya ringan-berat, ada yang lama-sebentar, ada yang seakan dibawa sampai mati, ada yang ekspresif, ada yang diam-diam. Ada yang marah dengan cara kasak-kusuk, ada yang ngomel, ada yang nyerocos asal bicara, ada yang memaki-maki, ada yang mengumpat-umpat, ada yang mengundurkan diri tiba-tiba alias "mutung", ada yang mengancam-ancam, dan ada pula yang diam-diam menjegal. Pokoknya komplit!

    Hampir semua jenis orang pernah marah padaku dan lembaga pendidikanku secara langsung ataupun tidak. Wali murid, guru, pegawai, tetangga, bahkan beberapa kali guru sekolah dan aparat dinas yang  tidak pernah kenalpun ada yang pernah mengumbar amarahnya.
    Pada awalnya, amarah mereka terasa dan begitu mempengaruhiku, tapi lama kelamaan amarah orang menjadi hal biasa buatku. Mungkin itu karena terlalu seringnya kena damprat orang. He, he, he...
    Yang pasti kemarahan orang tak lagi membuat nyali menjadi ciut, bahkan membuat pribadi terasa kian dewasa dan kuat. Belajar dari peristiwa demi peristiwa membuat aku bahkan menjadi sedikit apriori. Aku yakin orang yang mudah mengumbar amarah pasti sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. 
    Mereka hanya butuh melampiaskan emosi dengan cara menghukum orang lain, tak peduli apapun persoalannya. Orang yang sedang marah berarti sedang sakit jiwa, setidaknya kehilangan kendali atas emosinya. Penyebab kemarahan buka  orang lain, karena penyebab itu ada pada diri sang pemarah. Mereka hanya butuh sesuatu atau orang lain untuk memicu amarahnya. 
    Mereka harus dikasihani dan bila sempat perlu diantar ke psikiater atau rumah sakit jiwa. Singkat kata, pemarah hanya butuh orang orang lain sebagai  korban ketidakwarasannya. Filosof dan psikolog klasik memandang kemampuan seseorang menempatkan amarah sebagai petunjuk tinggi-rendahnya kualitas mental seseorang. Mudahnya seseorang mengumbar amarah menunjukkan akal sehatnya sedang error, alias tidak berfungsi dengan baik. Dalam bahasa filsafat klasik, kemarahan menunjukkan nalar rasional (an-nafs an-nathiqah) dikalahkan oleh nalar emosional (an-nafs asy-syahwaniyah atau al-ghadlabiyah), sehingga tak mampu lagi menyikapi dan menyelesaikan masalah secara bijak.
    Bila  bertemu orang yang sedang marah apapun bentuknya, maka pahamilah bahwa kita sebenarnya sedang apes saja, karena harus bertemu wong edan (orang gila), sedang kumat gendhenge (sakit gilanya sedang kambuh), minimal orang yang akal sehatnya sedang kehilangan kontrol atas emosinya.
    Mungkin sedikit sarkastik. Saran terbaik menyikapi amarah adalah sing gendheng ben gendheng (yang gila biar gila), tidak perlu ikut-ikutan gendheng (gila). Petuah orang tua dulu, Sing waras ngalah (yang normal alias tidak gila sebaiknya mengalah). 
    Semoga bermanfaat.

  • BIJAK MENYIKAPI WALI MURID


    Setiap sekolah memiliki beragam wali murid dengan berbagai karakteristik masing-masing. Tingkat kesejahteraan ekonomi tidak selalu menjadi ukuran kesediaan wali murid untuk memberikan dukungan terhadap sekolah. Ada yang secara ekonomi berkecukupan dan ada pula yang pas-pasan. Wali murid yang secara ekonomi berkecukupan ada yang mendukung pengelolaan sekolah, tetapi ada pula yang penuh perhitungan. Wali murid yang secara ekonomi termasuk pas-pasan ada yang mendukung pengelolaan sekolah, tetapi ada pula yang sebaliknya.
    Tingkat pendidikan wali murid juga bukan ukuran kesediaan mereka mendukung kemajuan sekolah. Hal ini dikarenakan sikap dan dukungan wali murid lebih ditentukan oleh karakter atau kepribadian yang bersangkutan. Guru dan pengelola sekolah tidak punya pilihan selain memberikan pelayanan terbaik dalam bentuk sikap dan perilaku positif.
    Pada prinsipnya melayani wali murid perlu menekankan sikap lembut dan tegas sekaligus, yang dalam praktiknya perlu menekankan sikap:
    1.  BERFIKIR DAN BERSIKAP POSITIF
    Apapun yang dihadapi oleh guru dan pengelola sekolah, mereka harus tetap mengedepankan berfikir positif dan bersikap positif pada wali muridnya. Berfikir positif berarti melihat persoalan dari sudut pandang positif. Misalnya, wali murid komplain mengenai masalah apapun berarti mereka perhatian. Mereka peduli dan turut memikirkan kemajuan sekolah meski dengan cara yang kurang positif.
    Bersikap positif berarti mengedepankan sikap baik apapun yang tengah dihadapi. Kadang guru dan pengelola sekolah harus menghadapi sikap dan perilaku tidak mengenakkan dari wali murid. Guru dan pengelola sekolah harus tetap menunjukkan sikap baik dan menghindari konflik yang hanya akan memperburuk keadaan. Guru dan pengelola sekolah tak ubahnya dengan dokter dan perawat di rumah sakit. Mereka harus tetap bersikap baik bilamana pasien berteriak-teriak karena sakitnya.    
    2.  MENDENGARKAN DENGAN BAIK
    Guru dan sekolah belum tentu dapat langsung memberikan solusi bagi setiap masalah yang dikeluhkan oleh wali murid. Mendengar adalah cara terbaik untuk memahami masalah dan mencari penyelesaian. Mendengar setidaknya dapat menjadi wahana untuk menenangkan orang lain.
    Hindari perdebatan, karena hanya akan memperumit keadaan. Sebaliknya, berikan kesempatan pada wali murid yang komplain dengan cara mendengarkan dengan seksama. Bila perlu, guru dan pengelola sekolah mencatat satu demi satu yang dikeluhkan oleh wali murid, dan membacakannya kembali agar persoalan menjadi lebih jelas.
    Hal ini dikarenakan masalah sering kali muncul karena kondisi emosional sesaat saja. Masalah yang jelas cenderung mudah diselesaikan tanpa menimbulkan amarah. Memperjelas masalah dengan cara mendengar akan memungkinkan masalah menjadi jelas dan mudah.
    3.  MEMBERIKAN PENJELASAN LOGIS DAN NORMATIF
    Bila ada wali murid yang memerlukan penjelasan, guru atau pengelola sekolah sebaiknya memberikan secukupnya saja. Hindari penjelasan panjang lebar sebab sering kali justeru memancing perdebatan. Penjelasan seyogyanya didasarkan atas ketentuan, tanpa menambah atau mengurangi.  
    Kalaupun perlu penjelasan logis, logika tersebut berkaitan dengan alasan atau pertimbangan yang mendasari ditetapkannya suatu aturan. Bila masih ada wali murid yang mempertanyakan aturan dengan berbagai argumen, maka sebaiknya tidak perlu ditanggapi, sebab melayani wali murid dilakukan bukan dalam rangka menyusun aturan, tetapi menerapkannya.  
    4.  MEMINTA MAAF DENGAN TULUS
    Ada kalanya sekolah tidak mampu memenuhi harapan wali muridnya, baik dalam hal substantif seperti hasil belajar, maupun masalah komplementer, seperti penyediaan buku dan seragam tidak tepat waktu atau ada barang-barang siswa yang ketinggalan. Tak jarang hal-hal sederhana membuat wali murid marah pada pihak sekolah, yang harus ditanggapi dengan baik.
    Bila permasalahan memang ada pada pihak sekolah, atau sekolah belum mampu memberikan pertanggung jawaban yang logis, ada baiknya sekolah meminta maaf. Bahkan sekalipun pihak sekolah tidak merasa bersalah dan harus bertanggung jawab terhadap suatu masalah, meminta maaf yang tulus akan meredakan ketegangan, sehingga masalah dapat diselesaikan dengan pikiran jernih.  

  • MEMAHAMI AMARAH

    Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita pernah berjumpa seseorang yang bicara sinis dan bicara negatif tentang orang lain (ghibah), bersikap emosional, mencaci-maki, mengumpat, marah-marah bahkan kadang sampai mengamuk. Kita sendiri kadang juga begitu, bukan? 
    Di sekolah kita juga sering melihat guru, pegawai, juga wali murid yang bersikap emosional, berbicara minor, sinis, kasar, marah-marah, dan menunjukkan sikap emosionalnya dalam berbagai ekspresi. Sebagai profesional, kita tak mungkin menghindari sikap, perkataan, dan perilaku yang diliputi amarah. Karenanya, kita perlu memahami kenapa itu terjadi, normalkah sikap dan perilaku itu, dan bagaimana menyikapinya?
    TEORI JIWA FREUD
    Dalam teorinya tentang ego (id, ego dan super ego), Sigmund Freud, melukiskan jiwa manusia ibarat gunung es. Bongkah es yang menyembul di atas permukaan air diibaratkan rasionalitas manusia, sedang di dalam air adalah emosionalitasnya. sebagaimana dalam bagan berikut.
    Bagian gunung es yang berada di bawah permukaan air biasanya jauh lebih besar dibanding yang tampak di permukaan. Demikian pula dengan jiwa manusia, yang pada umumnya lebih didominasi emosi dibanding rasionalitasnya.

    Kualitas mental manusia ditentukan oleh kemampuannya menempatkan akal sehat lebih dominan dibanding emosinya (tipe rasional). Orang yang emosinya lebih dominan dibanding akal sehatnya, berarti memiliki kualitas mental yang rendah (tipe emosional).
    Itulah sebabnya, manusia memerlukan pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk membuat anak manusia agar dalam menjalani hidup lebih mengedepankan rasionalitas dan akal sehat dibandingkan emosinya.
    Manusia yang berhasil membuat akal sehatnya dominan atas emosinya disebut manusia super (Euber march) oleh Freud dan Nietze atau disebut insan kamil oleh para ilmuwan muslim. Sedang manusia rendah adalah mereka yang sikap dan perilakunya dikuasai oleh emosi, dan mengesampingkan akal sehatnya.
    MENYIKAPI AMARAH
    Dari sini dapat dipahami, bahwa emosi atau amarah adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan kondisi jiwa yang didominasi oleh emosi. Semakin tinggi emosi seseorang, berarti rasionalitas dan akal sehatnya semakin tidak berungsi. Akal sehatnya tertutup oleh sikap dan pikiran negatif.
    Karena itu, orang yang sedang emosi/ marah tidak perlu ditanggapi, karena
    1. Orang emosi/marah tidak bisa berfikir dengan akal sehat. Sikap, perkataan dan perilaku mereka dikendalikan emosi, sehingga tidak dapat melihat persoalan dengan pikiran jernih. Akibatnya, mereka tidak dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk, yang pantas dan yang tidak pada tempatnya.
    2. Orang emosi/marah tidak berniat menyelesaikan masalah, tetapi ingin “menghukum” yang dimarahi atau “dimangkeli”. Orang marah tidak mungkin diajak berbicara, sebab pada dasarnya hanya dia hanya ingin bertengkar/berkelahi. Dia bukan mencari solusi, tapi ingin menang dan harus mengalahkan. Dia hanya berfikir bagaimana bisa menghukum orang yang dia marahi, mempermalukannya, atau membalas dendam dan sakit hati. Karenanya, dia akan semakin marah dan menjadi-jadi bila orang yang dia marahi melawan dengan sikap atau kata-kata, apalagi bila sampai kalah argumen.
    3. Orang marah/emosi pasti sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. Orang emosi/marah biasanya hanya menjadikan orang lain sebagai obyek pelampiasan dari masalah dia sendiri. Orang tidak akan bersikap emosional, memaki, mencaci, dan apalagi marah-marah bila dia sendiri sedang dalam kondisi baik-baik saja atau tidak sedang bermasalah.

    Menanggapi orang yang sedang dikuasai emosi/amarah sama dengan menanggapi sikap, kata-kata dan perilaku orang yang sedang “tidak waras” atau “orang gila”. Bila ada orang gila memaki anda, apakah anda perlu menanggapinya? Bila anda menanggapinya, maka apa bedanya anda dari dia?
    Sebagai pendidik, yang sebagian juga istri atau suami, kakak, adik dan orang tua dari anak-anak, kita perlu mengedepankan akal sehat dalam sikap, ucapan maupun perilaku. Sering kali kita harus membayar terlalu mahal akibat sikap dan keputusan emosional kita, baik di rumah, di jalan atau di tempat kerja.
    Apapun yang kita hadapi, kita harus selalu mengedepankan sikap rasional dan tidak mudah terpengaruh sikap negatif orang lain. Pendidikan yang pernah kita lalui adalah untuk menjadikan kita manusia yang mampu berfikir jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Seharusnya dengan cara itu pulalah kita menyikapi setiap persoalan, mendidik keluarga dan anak didik kita.
  • TIPE-TIPE WALI MURID

    Sebagai konsumen wali murid merupakan bagian paling unik dalam pengelolaan sekolah, apalagi sekolah swasta berbayat, tidak gratis. Kita masih bisa pilih-pilih guru, pegawai dan murid dengan cara seleksi, tetapi tidak demikian halnya dengan wali murid.
    Kita hanya dapat menerima mereka apa adanya, tanpa banyak kesempatan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukan hanya memahami mereka dan menyikapi sesuai karakteristik masing-masing.
    Sebenarnya sikap, pola pikir, dan pola perilaku mereka masih mungkin diubah sedikit demi sedikit, melalui parenting. Hanya saja, kegiatan parenting biasanya membutuhkan kondisi dan kesiapan managemen sekolah yang memadai. 
    Sebagaimana halnya murid-murid kita, wali murid juga beragam. Secara sederhana, tipologi wali murid dapat dipetakan berdasarkan rasionalitas dan kearifannya. Yang dimaksudkan dengan rasionalitas di sini adalah pemahaman mereka terhadap prosedur-mekanisme, konsep pendidikan, dan pola pengelolaan sekolah. Sedangkan kearifan adalah sikap mental mereka seperti empati dan kepedulian terhadap beban sekolah, tanggung jawab, dalam menyikapi setiap permasalahan. 
    Dari segi rasionalitasnya, mereka dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yakni wali murid yang rasional (paham permasalahan) dan yang irasional (tidak paham permasalahan). Sedangkan dari segi kearifan, mereka dibedakan ke dalam kategori bijaksana dan emosional.
    Dari dua parameter ini mereka dapat dibedakan ke dalam 4 (empat) kategori wali murid, yaitu orang proaktif, orang motivatif dan pemrotes dan rese/rewel.
    Wali Murid PROAKTIF
    Wali murid proaktif memiliki pemahaman yang baik (tinggi) terhadap prosedur, mekanisme, tata kelola, dan konsep pembelajaran. Mereka menyekolahkan putera-puterinya dengan pertimbangan rasional, dan dapat membedakan kualitas pendidikan antar sekolah.
    Wali murid proaktif biasanya bijaksana dalam bersikap. Mereka menyampaikan ide dan keluhan secara jelas dan santun. Mereka tidak suka mengumbar emosi, atau kata-kata kasar dan kotor.
    Sekolah sangat beruntung bila semakin banyak memiliki wali semacam ini. Ide-ide positif yang mendorong kemajuan akan terus mengalir serta dapat direspon oleh guru dan pengelola dengan baik. Di antara ciri khas wali murid tipe ini adalah:
    1. Paham benar kondisi anaknya.
    2. Membangun hubungan baik dengan segenap guru dan pengelola sekolah.
    3. Nada bicaranya datar, positif, tidak terkesan protes, dan suka berbagi wawasan.
    4. Bertanya dan memberikan alternatif berdasarkan referensi terpercaya.
    5. Mereka memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan yang dia harapkan dapat diterapkan di sekolah.
    6. Mereka peduli pada kondisi sekolah, dan berusaha membantu sekolah baik secara moril maupun materiil.
    Berjumpa wali murid proaktif merupakan kesempatan terbaik bagi guru/pengelola sekolah untuk menggali masukan-masukan positif. Bila berjumpa dengan mereka, sebaiknya:
    1. Sikapi secara empatik.
    2. Manfaatkan sebagai kesempatan untuk menggali ide-ide segar bagi kemajuan sekolah.
    Wali Murid MOTIVATIF
    Tipe ini pada umumnya paling banyak dijumpai di sekolah plus. Wali murid tipe ini tidak terlalu memahami masalah pendidikan dan sistem pengelolaan sekolah. Kalaupun paham, mereka hanya tahu hal-hal yang bersifat umum, dan tidak pernah sampai pada detailnya.
    Meski pemahamannya tidak begitu detail, tetapi mereka memiliki kepercayaan pada sekolah. Mereka lebih mengedepankan husnudzon (positive thingking) pada guru dan pengelola sekolah dan tidak mudah terprovokasi oleh isu dan pembicaraan-pembicaraan di luar sekolah.
    Di antara ciri khas tipe ini adalah:
    1. Tipe ini umumnya terdiri dari pekerja, pegawai atau pengusaha yang tertib.
    2. Nada bicaranya datar, positif, tidak pernah terkesan protes, dan lebih suka menjadi pendengar.
    3. Mereka cukup sibuk untuk terlibat pada urusan yang tidak perlu, dan tidak banyak waktu luang (nganggur) untuk “ngrumpi” atau acara dukung-mendukung.
    4. Mereka tidak banyak punya waktu untuk terlibat langsung dalam kegiatan sekolah.
    5. Mereka enggan membahas sesuatu di luar tugas-tugasnya sendiri.
    6. Mereka lebih suka mencari tahu perihal kemampuan anaknya, system pendidikan dan pengelolaan sekolah pada guru dan pengelola sekolah,
    7. Mereka tidak banyak menuntut, bahkan cenderung ringan tangan membantu sekolah terutama dalam hal materi.
    Berjumpa dengan wali murid tipe ini cukup mengenakkan, meski tidak terlalu banyak ide baru didapatkan. Bila bertemu dengan mereka, sebaiknya:
    1. Sikapi secara empatik.
    2. Manfaatkan sebagai kesempatan berbagai mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan putera-puterinya.
    Wali Murid PEMROTES
    Tipe ini memiliki pemahaman masalah pendidikan dan sistem pengelolaan sekolah, meski tidak jarang hanya pintar berbicara saja. Hanya saja, mereka tidak ditunjang dengan sikap mental dan etika moral yang mengenakkan.
    Singkatnya, mereka orang yang tahu soal pendidikan, sekolah, dan memiliki harapan tinggi pada sekolah, tetapi bukan pribadi simpatik. Sering kali mereka suka mengedepankan emosi dalam menyikapi suatu permasalahan.
    Di antara ciri khas wali murid tipe pemrotes adalah:
    1. Pintar berargumen.
    2. Suka protes, dan memberi kritik dan masukan dengan nada bicara tinggi, menggunakan ungkapan-ungkapan negative thinking, emosional dan marah-marah.
    3. Tidak mentolerir kekeliruan, meski kadang hanya kesalahpahaman.
    4. Sangat sensitif dan perhitungan dalam hal keuangan. Mereka tak segan menuntut fasilitas keringanan atau bahkan pembebasan biaya pendidikan, dan sangat sensitif bila ada penarikan dana.
    Bertemu dengan wali murid tipe ini seringkali menyulitkan guru/pengelola sekolah. Kecenderungan mendahulukan amarah di atas masalah menjadi-kan guru sering tidak tahu bahwa dia sebenarnya bermaksud baik.
    Tidak jarang pula mereka menyampaikan hal yang benar atau kesalahpahaman. Misalnya, ada wali murid marah-marah karena kesalahan pembayaran. Ada pula wali murid yang marah-marah karena informasi soal jam pulang sekolah tidak tersampaikan sebagaimana mestinya.
    Bilamana bertemu dengan wali murid tipe ini sebaiknya:
    1. Sikapi secara empatik.
    2. Dengarkan pembicaraannya hingga dia selesai berbicara.
    3. Jangan menyela pembicaraan atau menjawab langsung.
    4. Pahami dan simpulkan poin yang dia bicarakan.
    5. Bila mempunyai jawaban yang jelas dan tegas, maka berikan jawaban berdasarkan fakta dan aturan-aturan yang berlaku.
    6. Bila perlu tegaskan dulu yang dia maksudkan, “Apakah maksud ibu/ bapak tadi begini?”
    7. Bila tidak mampu menjawab dengan pasti, jawab saja diplomatis, “Maaf, bisa ditunggu sebentar supaa saya tanyakan pada kepala sekolah”
    8. Tidak perlu membela diri. Bilang saja, “Terima kasih atas masukannya”, atau “Maaf atas kekeliruan ini”
    9. Hal-hal yang bernada negatif, seperti umpatan dan caci-maki tidak perlu ditanggapi. Sekali anda menanggapi, maka tidak aka nada bedanya antara anda dengan mereka ini.
    10. Dalam keadan tertentu, mereka tak perlu ditanggapi, sebab tidak jarang mereka hanya ingin marah, dan orang marah tak perlu penjelasan.
    Wali Murid REWEL/PENGACAU
    Bertemu dengan wali murid tipe ini sering jadi pengalaman paling sulit. Mereka suka komplain, memprotes dan menuntut dengan sikap emosional, tetapi tidak memiliki pemahaman memadai mengenai masalah pendidikan dan sistem pengelolaan sekolah. Mereka penuntut yang suka berkomentar seenaknya, dan mengkritik tanpa solusi.
    Jauh lebih sulit lagi bila mereka termasuk pribadi super egois, yang tidak mau tahu kondisi dan aturan sekolah. Mereka memiliki tingkat kepribadian yang rendah, dan lebih suka menyelesaikan masalah dengan mengedepankan emosi. Mereka berkecenderungan mencari pembenar untuk dirinya sendiri, dan tidak memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian pada kelangsungan sekolah.
    Di antara ciri khas wali murid tipe ini adalah:
    1. Nada bicaranya emosional, negatif, suka protes, suka komentar, bahkan untuk urusan yang tidak perlu.
    2. Membangun jarak, kecurigaan, bahkan permusuhan terhadap guru dan pengelola sekolah.
    3. Mendahulukan protes atau marah-marah dibanding memperjelas masalah.
    4. Tawar-menawar untuk urusan yang sudah jelas dan sepele.
    5. Sangat sensitif dan perhitungan dalam hal keuangan. Mereka tak segan menuntut fasilitas keringanan atau bahkan pembebasan biaya pendidikan, dan sangat sensitif bila ada penarikan dana.
    Di antara contoh kasus wali murid tipe ini:
    1. Ada wali murid yang belum bayar biaya pendidikan. Saat diberikan pemberitahuan, mereka bukan minta maaf atau meminta tenggang waktu, tetapi malah marah-marah.
    2. Ada wali murid yang tidak tahu duduk permasalahan, tetapi dengan mudah berkomentar yang macam-macam.
    3. Ada wali murid yang dengan mudah berkomentar negatif terhadap suatu kegiatan yang dia tidak tahu maksud, tujuan dan relevansinya dengan kegiatan pembelajaran.
    4. Ada wali murid yang secara emosional memaksa mengambil tabungan di tengah waktu berjalan tanpa mau dikenakan penalti, meski sudah tahu aturannya.
    5. Ada wali murid yang mampu secara ekonomi, tetapi dengan emosional memaksa minta keringanan biaya pendidikan dengan berbagai alasan.
    6. Ada wali murid yang bertahun-tahun tidak membayar biaya pendidikan termasuk seragam dan buku-buku, tetapi saat ditagih pembayaran malah berteriak-teriak menuntut sekolah gratis.
    Bila berjumpa dengan wali murid yang kehilangan hati nurani semacam ini, sebaiknya:
    1. Tetap tenang, dan berusahalah selalu tersenyum.
    2. Sikapi secara empatik.
    3. Sadari, bahwa Anda sedang berhadapan dengan orang yang pada dasarnya bermasalah dengan dirinya sendiri. Mereka hanya memerlukan orang lain untuk dijadikan tempat melampiaskan beban masalahnya sendiri.
    4. Tidak perlu menjawab atau menanggapi protes, ucapannya yang pedas, apalagi kemarahannya, sebab mereka pada dasarnya tidak butuh tanggapan.
    5. Bila memerlukan jawaban dan penjelasan, sikapi wali murid tipe ini sebagaimana cara menyikapi wali murid tipe pemrotes.
    PENUTUP
    Menjadi guru atau pengelola sekolah berarti siap “ngemong” bukan saja anak didik, tetapi juga wali muridnya. Melalui lembar ini, semoga kita semakin bijak menyikapi mereka.
  • WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Karya Nyata Ragam Kerajinan

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.