ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
  • Keamanan Anak Saat Online adalah Tanggung Jawab Kita Bersama

    Keamanan Anak Saat Online adalah Tanggung Jawab Kita Bersama


    Saat ini kita sedang berada dalam jaman yang jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Sama sekali berbeda, karena kemajuan dunia Teknologi dan Informasi yang semakin akrab dengan anak-anak. Hampir setiap hari, beberapa jam anak-anak habiskan dengan kesibukan bermain dengan dunia online. Mereka menonton video, bermain game, membaca dan menggunakan sosial media. Guru kini menghadapi anak-anak yang begitu akrab dengan dunia digital. Tetapi apakah dunia digital yang terbentang itu aman? Siapakah yang harus bertanggungjawab jika terjadi sesuatu dengan anak-anak kita?

    Saat ini tentu sekolah mempunyai tugas baru yaitu menjaga anak-anak saat mereka berselancar di dunia maya menjelajahi internet untuk kebutuhan pembelajaran di kelas. Karena itu setiap sekolah dan guru-guru yang ada di ruang-ruang kelas dengan teknologi digital itu harus benar-benar memahami bahaya yang mungkin akan mengintai anak-anak (siswa).

    Setiap sekolah yang ruang-ruang kelasnya menyediakan akses ke internet sudah seharusnya mempunyai filter terhadap konten-konten yang merusak dan berbahaya bagi siswa. Guru harus memantau konten-konten yang diakses oleh siswa. Sebenarnya, kita tidak semata-mata harus waspada terhadap konten tetapi juga hal-hal lainnya seperti sambungan (kontak) yang berupa personal atau grup yang dapat memberikan efek negatif kepada siswa, serta pengaruh tingkah laku yang mungkin berakibat pada kekerasan, pornografi, dan semacamnya.

    pernahkah anda memonitor dan berkomunikasi apa yang dilakukan anak anda saat berinternet ria?
    pernahkah anda memonitor dan berkomunikasi apa yang dilakukan anak anda saat berinternet ria?


    Jadi, tidaklah cukup semata-mata sekolah memblokir situs-situs yang berefek negatif ini, tetapi juga harus membekali anak-anak dengan kemampuan berpikir yang kritis untuk selalu selektif dalam mengaakses sesuatu di internet. Ambil contoh saja, beberapa anak yang telah diberitakan pergi dari rumah karena mereka melakukan komunikasi dengan orang asing melalui media sosial, dan kemudian terbujuk untuk melakukan sesuatu yang tentu saja tidak seharusnya mereka lakukan. Guru dan sekolah tidak akan pernah dapat selalu memblock semua situs jahat dan berbahaya dan mengawasi mereka atau dengan siapa mereka berkomunikasi di media sosial.

    Sementara itu orang tua juga harus selalu menjaga anak-anak ini dari bahaya dunia digital saat mereka di rumah. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangatlah diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang apa itu internet sehat. Orang tua dapat bertanya secara halus tentang apa yang mereka baca, mereka mainkan, dan dengan siapa mereka berkomunikasi di dunia maya. Jika dulu guru-guru hanya harus mengajarkan bagaimana anak-anak harus menyeberang jalan yang ramai karena padatnya arus lalu lintas, kini tugas kita semua ditambah dengan mengajarkan bagaimana mereka menggunakan internet dengan bijak.

    Kita tidak bisa memutus anak-anak (siswa) dari hubungan dengan internet karena internet adalah keharusan. Dunia kita tak bisa lagi dipisahkan dari dunia digital. Jadinya, kita tak mungkin mengisolasi mereka dan juga tak ingin mereka terisolasi karena memang internet sangat dibutuhkan.

    Adalah kewajiban sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat untuk membangun internet yang sehat untuk anak-anak (siswa) kita.

    Baca Juga:
    Pembelajaran dengan Internet
  • Contoh Judul-Judul Penelitian Tindakan Sekolah (PTS)

    Contoh Judul-Judul Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) untuk Diadaptasi


    Para kepala sekolah atau pengawas sebenarnya dapat menggunakan trik menggunakan contoh-contoh judul PTS (Penelitian Tindakan Kelas) orang lain untuk diadaptasi menjadi judul penelitiannya. Hal ini lumrah dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas yang baru atau belum terbiasa melaksanakan penelitian yang satu ini. Nah, untuk kebutuhan itu, berikut ini kami berikan beberapa contoh judul PTS (Penelitian Tindakan Sekolah) yag dapat diadaptasi, misalnya cukup dengan mengubah lokasi (setting) di mana penelitian tindakan sekolah akan dilaksanakan. Walaupun demikian, jika memang Bapak atau Ibu kepala sekolah dan pengawas ingin menggunakan judul-judul ini dan mengadaptasinya, maka tentulah kondisi nyata di lapangan memang mirip, atau permasalahan yang dihadapi dan action (tindakan) yang akan dilakukan juga dapat diterapkan.



    Beberapa contoh judul penelitian tindakan sekolah (PTS) untuk Kepala Sekolah

    Berikut ini beberapa contoh judul PTS yang dapat dilaksanakan oleh seorang kepala sekolah:
    1. Meningkatkan Kemampuan Guru BK (Bimbingan Konseling) dalam Melaksanakan Program Bimbingan Melalui Pemantauan Laporan Kerja Mingguan di MTs As Salam Pada Tahun Pelajaran 2016/2017
    2. Meningkatkan Penggunaan Media Pembelajaran dan Sumber Lingkungan Sekolah oleh Guru-Guru SMP Negeri 75 Limboto Melalui Pembelajaran Aktif yang Difasilitasi Sekolah dalam Wadah MGMP Sekolah
    3. Pemeriksaan Mingguan Rencana Pembelajaran Guru untuk Meningkatkan Kualitas RPP Buatan Guru Di SMP Luar Biasa Budi Setia Tahun Pelajaran 2016/2017
    4. Supervisi Klinis Intensif Sebagai Trik Meningkatkan Kemampuan Guru-Guru SMP Negeri 7 Sampanan dalam Menghidupkan Suasana Belajar di Kelas
    5. In House Training Berkala dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Guru Mengaplikasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar di SDN 2 Batu Bajang.
    6. Kerja Kelompok Guru Mata Pelajaran Serumpun di MTs Negeri 12 Selat Tantihung untuk Meningkatkan Kualitas Perencanaan Pembelajaran Tahun Pelajaran 2016/2017
    7. Program Coaching Guru Senior di SMPN 543 Bekasi untuk Meningkatkan Keterampilan Dasar Mengajar Guru-Guru Muda Tahun Pelajaran 2016/2017.
    8. Pemanfaatan Lesson Study Sebagai Komunitas Belajar untuk Guru di SMA Negeri 4 Pekan Salangang Tahun Pembelajaran 2016/2017 untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Guru Di Kelas
    9. In House Traning Berbasis TIK yang Dipadu dengan Tagihan Mingguan untuk Meningkatan Kualitas Administrasi Mengajar Guru-Guru SD Negeri 13 Kundalahi
    10. Weekly Report Kepala-Kepala Unit Sekolah dalam Meningkatkan Pemanfaatan Laboratorium, Bengkel, Perpustakaan di SMK Negeri 1 Jondol Tahun Pelajaran 2016/2017
    11. Optimalisasi Penggunaan Laboratorium di SMA Negeri 12 Sentenan untuk Peningkatan Kualitas Belajar Mata Pelajaran Rumpun MIPA Melalui Supervisi Klinis
    12. Coaching Guru Senior untuk Meningkatkan Karier Guru dengan Pangkat IVa Ke Bawah di SMP Tunas Unggul Cendekia Tahun Pelajaran 2016/2017
    13. Program Reward Bagi Guru dengan Pembelajaran-Pembelajaran Inovatif di SMA Negeri Gesangan dalam Upaya Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Siswa Tahun Pembelajaran 2016/2017
    14. Kerja Kolektif Guru Serumpun Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Melakukan Penelitian
    15. Program Refleksi Mingguan Guru untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di SD Negeri 4 Teluk Gumbalak Tahun Pelajaran 2016/2017

    Lalu bagaimana untuk PTS (Penelitian Tindakan Sekolah) Pengawas? Judul-judul tersebut dapat pula diadaptasi dengan memperluas scope (lingkup) penelitian, misalnya mengadakan PTS untuk beberapa sekolah sekaligus yang berada dalam satu gugus atau rayon yang memiliki permasalahan serupa dan kemungkinan pemecahan masalah (tindakan/action) dapat diterapkan.

    Demikian beberapa contoh judul PTS (Penelitian Tindakan Sekolah) untuk Kepala Sekolah dan Pengawas. Semoga bermanfaat.
  • Download Kisi-Kisi UN (Ujian Nasional) Tahun 2017 Lengkap Semua Jenjang

    Download Kisi-Kisi Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2016/2017

    Saat ini BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) telah mengeluarkan secara resmi Kisi-Kisi UN atau Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2016/2017 yang akan dilaksanakan sekitar bulan April tahun 2017 mendatang. Kisi-Kisi UN tahun 2017 ini dirilis oleh BsNP pada tanggal 24 Desember 2016 melalui situs resminya di bnsp-indonesia.org.

    Dalam rilis tersebut diberikan Surat Edaran (SE) BSNP - Badan Standar Nasional Pendidikan nomor 0075/SDAR/BSNP/XII/2016 tentang Kisi-Kisi Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2016/2017. Surat edaran dan seluruh kisi-kisi UN tahun pelajaran 2016/2017 ini telah disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh Indonesia pada tanggal 23 Desember 2016 yang lalu.

    Bersama surat edaran tersebut BSNP juga memberikan link untuk mendownload Kisi-Kisi UN tahun pelajaran 2016/2017 tersebut meliputi:
    • Kisi-Kisi UN SMP/MTs tahun 2017
    • Kisi-Kisi UN SMA/MA, Sekolah Teologi Kristen, dan Sekolah Menengah Agama Katolik Tahun Pelajaran 2016/2017.
    • Kisi-Kisi UN SMK/MAK tahun pelajaran 2016/2017
    • Kisi-Kisi UN SMALB Ketunaan Netra/Daksa/Laras, SMALB Ketunaan Rungu Tahun Pelajaran 2016/2017
    • Kisi-Kisi UN Program Paket B dan Paket C Tahun Pelajaran 2016/2017.
    Link Download Dokumen-dokumen tersebut diberikan diakhir tulisan ini.

    Silakan download Kisi-Kisi UN (Ujian Nasional) Tahun Pelajaran 2016/2017 langsung dari situs resmi BSNP
    Download Kisi-Kisi UN 2017 Lengkap Semua Jenjang dari situs resmi BSNP

    Sebelumnya, sebagaimana ramai menjadi perbincangan di berbagai media, bahwa Mendikbud sempat meminta Presiden untuk melakukan moratorium terhadap Ujian Nasional tahun 2017, dan telah pula diputuskan bahwa UN (Ujian Nasional) tetap dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan. Bahkan kabar terbaru adalah akan dilaksanakannya UABN (Ujian Sekolah Berstandar  Nasional untuk beberapa mata pelajaran).

    Pada tahun 2017 nanti, di mana pelaksanakaan Ujian Nasional atau lebih sering disingkat sebagai UN ini akan dilaksanakan pada bulan April 2017.

    Silakan bagi anda yang memerlukan dokumen-dokumen tersebut untuk mengunduhnya langsung dari website resmi BSNP berikut ini:
  • Bagaimana Cara Membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang Baik?

    Bagaimana Cara Membuat Rencana Pembelajaran yang Baik?

    Kalau kita bertanya tentang bagaimana cara membuat dan mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik, maka tentunya selain berpatokan kepada Standar Proses, Standar Isi, dan Standar Penilaian yang diamanahkan oleh kurikulum yang berlaku, maka kita juga harus memperhitungkan berbagai aspek lainnya sehingga RPP yang kita buat menjadi sebuah RPP yang benar-benar dapat dilaksanakan dan memberikan acuan pelaksanaan pembelajaran yang benar-benar bermutu. (Baca: Apa Manfaat Perencanaan Pembelajaran?)

    Perencanaan yang baik adalah langkah awal untuk melakukan pembelajaran yang efektif. Dan tahukah anda bahwa merencanakan pembelajaran (membuat RPP) merupakan salah satu tugas krusial guru yang benar-benar harus dikuasai. Setiap guru harus merancang pembelajarannya masing-masing dan sangat tidak dianjurkan sebenarnya menggunakan RPP yang dibuat oleh orang lain apalagi terdapat perbedaan karakteristik sekolah, peserta didik, dan guru itu sendiri dengan si pembuat atau pengembang RPP.

    bagaimanakah sebenarnya cara membuat RPP atau rencana pelaksanaan pembelajaran itu?
    bagaimanakah sebenarnya cara membuat RPP atau rencana pelaksanaan pembelajaran itu?

    Adapun langkah-langkah umum membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) adalah sebagai berikut:
    • Aculah Kurikulum yang diberlakukan. Pada saat ini beberapa sekolah mengacu pada Kurikulum 2013 dan beberapa sekolah lainnya mengacu kepada Kurikulum 2006. Perhatikan standar isi, standar proses, serta standar penilaian pada kurikulum yang digunakan. Jangan menyalahi arahan kurikulum yang diberlakukan. (Baca: Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013)
    • Perhatikan kalender pendidikan yang telah anda adaptasikan dengan alokasi waktu yang tersedia untuk mata pelajaran atau kelas anda. Dasarkan pembagian alokasi pertemuan-pertemuan (tatap muka) dalam RPP sesuai dengan program semester yang telah dibuat sehingga semua materi ajar akan selesai digarap dalam rentang waktu tertentu sesuai kalender.
    • Pilah materi ajar menjadi materi dengan spesifikasi: (1) sangat penting; (2) penting; (3) tambahan. Ketika anda melakukan analisis materi pelajaran, materi-materi harus dipilah-pilah sehingga bisa menentukan mana-mana saja yang wajib diajarkan kepada peserta didik, dan mana yang dapat ditinggalkan jika alokasi waktu yang dimiliki tidak begitu tersedia.
    • Buatlah rancangan kegiatan untuk setiap bagian materi ajar tersebut. Strategi apa yang akan digunakan? Apa yang akan peserta didik lakukan selama mempelajarinya? Alat, bahan, atau media apa yang diperlukan untuk mengajarkannya? Buatlah rinci setiap sesi-sesi tersebut. Perlu dicatat bahwa dalam satu kali tatap muka kita bisa membagi-bagi waktu tersebut untuk beberapa sesi penyampaian materi ajar yang bervariasi. Ada jeda dan transisi di antara setiap sesi itu, dan semuanya harus dirancang dengan baik sehingga peserta didik dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan efektif dan menyenangkan.
    • Buatlah latihan-latihan singkat berbentuk kuis untuk diaplikasikan pada sesi akhir setiap RPP di kelas anda. Kuis-kuis ini tentu saja harus mengacu kepada tujuan pembelajaran (indikator pencapaian kompetensi) yang diharapkan.
    • Setelah selesai menulis RPP, buatlah agenda kegiatan anda terkait implementasi dari RPP-RPP yang telah dibuat. Disarankan untuk membuat RPP setiap minggu sehingga lebih mudah mengorganisasi apa-apa yang harus dipersiapkan dan harus dilakukan selama sepekan itu. 
    • Tulislah RPP sesuai format yang telah ditentukan oleh pemerintah, jika Anda mengajar di sekolah negeri atau sekolah yang mengikuti standar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.(Baca: Komponen-Komponen RPP Menurut Kurikulum 2013)
    • Di luar RPP, anda boleh menambahkan beberapa unit kecil (sesi dengan waktu sekitar 2 sampai 5 menit) untuk membuat kelas menjadi lebih fun dan menyenangkan. Misalnya dengan membuat mini game, tetapi tetap berhubungan dengan pelajaran, bukan sekedar memasukkan sesuatu yang fun tetapi tidak bermakna bagi pembelajaran tersebut. Jadikan ini sebagai lampiran khusus dan hanya akan diberikan pada situasi-situasi tertentu di kelas, misalnya ketika peserta didik tampak kurang bersemangat atau cuaca yang gerah dan tidak nyaman untuk belajar.
    Bagaimana menurut Anda?
  • Cara Mengatur Disiplin Kelas Anak SD Kelas Tinggi

    Cara Mengatur Disiplin Kelas Anak SD Kelas Tinggi (Ketika Disiplin Kelas Dilanggar)

    Apa yang terpikirkan ketika kita mendengar kata DISIPLIN kelas? Mungkin akan terbayang di mata Bapak dan Ibu Guru bagaimana situasi di kelas yang Bapak dan Ibu ampu. Bapak dan Ibu wali kelas di SD untuk kelas tinggi? (4, 5 dan 6)? Sepertinya tulisan ini cocok untuk anda yang sedang mencoba memperbaiki disiplin siswa untuk SD kelas 4, 5, atau 5.

    Memang, disiplin adalah salah satu kunci sukses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Tidak ada sekolah yang bisa maju jika disiplin yang berlaku kurang, atau tidak termanajemen dengan baik. Disiplin yang baik mendukung atmosfer (suasana) yang kondusif untuk proses belajar mengajar.

    Berikut ini, beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru atau wali kelas di SD (Sekolah Dasar) pada kelas-kelas yang lebih tinggi (4, 5, dan 6) untuk mengatur dan memanajemen disiplin kelas.

    Jelaskan Perbedaan Antara ADIL dan SAMA

    Seringkali anak-anak SD menganggap guru tidak SAMA dalam memperlakukan siswa yang melanggar peraturan. Pada beberapa siswa mungkin guru akan dapat mendengar protes mereka. "Mengapa Bu Guru memperlakukan saya TIDAK SAMA seperti ketika Andri dulu juga mematahkan penggaris kelas? Mengapa Ibu akan memanggil orang tua saya ke sekolah? Nanti ayah saya bisa marah, Bu Guru. Dulu Andri juga mematahkan penggaris kelas, tapi orang tuanya tidak dipanggil ke sekolah." keluh Ivan, seorang murid kelas V kepada Bu Intan.

    mengatur dan manajemen disiplin kelas untuk siswa SD sangat penting sehingga tercipta kondisi kelas yang mendukung proses KBM dan pendidikan
    bagaimana cara mengatur dan memanajemen disiplin di kelas?

    Pada pandangan Ivan, Bu Intan sudah memperlakukannya secara tidak ADIL karena perlakuannya berbeda. Untuk kasus seperti ini tentunya guru harus mampu menjelaskan kepada anak kenapa perlakuan kepada setiap pelanggaran disiplin atau peraturan bisa berbeda. Tujuan pendidikan adalah membentuk mereka menjadi manusia yang baik dan berkualitas. Dan karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda, sifat dan watak yang berbeda, maka guru akan memberikan perlakuan yang mungkin juga berbeda untuk mencapai tujuannya dalam mendidik mereka.

    Perlakuan yang berbeda justru dilakukan oleh guru karena alasan tersebut di atas, demi kepentingan pendidikan mereka. Bu Intan tentu memanggil orang tua Ivan karena beberapa alasan kuat. Mungkin saja perilaku Ivan sudah lebih parah dibanding perilaku Andri. Ivan mungkin sudah beberapa kali merusak barang-barang di kelas, sementara Andri sebelumnya tidak pernah. Atau kerusakan yang dibuat oleh Andri lebih kepada ketidaksengajaan.

    Jadi ketika menghadapi protes sedemikian dari Ivan, Bu Intan harus mampu menjelaskannya dengan baik agar Ivan dapat memahaminya. Ditinjau dari perkembangan psikologis anak usia kelas tinggi di SD (kelas 4, 5 dan 6), mereka telah mampu menangkap penjelasan seperti ini.

    Tentu lebih baik lagi jika perbedaan perlakuan justru lebih mempertimbangkan sisi keadilan, bukan kesamaan ini disampaikan di awal tahun pelajaran saat anak-anak itu pertama kali menginjakkan kaki di kelas mereka.

    Buat Kotak Saran dan Pastikan Siswa Berani Menulis Harapan Mereka Terkait Disiplin Kelas dan Hal Lainnya

    Salah satu pendekatan yang sebaiknya dilakukan oleh guru-guru adalah mengajak mereka berkomunikasi. Karena waktu guru tidak akan cuma dihabiskan untuk masalah disiplin, maka sediakanlah sebuah kotak saran atau dapat juga waktu khusus di setiap pekan. Katakan dan yakinkan kepada mereka bahwa guru menghargai setiap saran bahkan kritikan yang masuk. Tunjukkan bahwa justru itulah cara menyampaikan pendapat yang benar mengenai disiplin kelas, rasa ketidakadilan di kelas, atau tekanan-tekanan yang mereka hadapi, bahkan hal-hal apapun juga. Yakinkan bahwa guru tidak akan memasukkan mereka ke "daftar hitam" anak-anak yang suka "memberontak" dan sejenisnya. Yakinkan kepada mereka bahwa setiap saran yang diberikan akan membantu guru menjadi pendidik yang lebih baik bagi mereka.

    Waktu Memberikan Teguran atau Tanggapan Terhadap Perilaku Tidak Disiplin

    Ketika suatu pelanggaran disiplin dilakukan oleh siswa, guru tidak selalu akan menegur secara langsung, apalagi jika pelanggaran itu bukan pelanggaran berat dan berlangsung selama proses belajar mengajar. Jelaskan kepada siswa bahwa guru mementingkan untuk mengajar dan tidak ingin membuat semua anak yang lain tahu dan mempermalukan si pelanggar, apalagi pelanggaran disiplinnya tidak terlalu parah. Katakan bahwa siswa yang sedemikian tetap juga akan mendapatkan teguran, nasehat, dan sebagainya mungkin di luar waktu belajar. Jelaskan bahwa guru akan selalu mengawasi tindak-tanduk mereka di dalam kelas selama proses belajar mengajar, tanpa ingin mengurangi waktu belajar mereka dengan menggunakannya hanya untuk seorang anak yang melanggar peraturan di kelas.
    Baca Juga: Cara Mengatasi Masalah Disiplin Siswa

    Buatlah Prosedur Manajemen Disiplin Kelas Bapak dan Ibu Guru

    Sangat penting untuk membuat dan menetapkan prosedur disiplin kelas. Bagaimana langkah-langkah dan tahapan penanganan pelanggaran disiplin. Dan, prosedur ini tentunya juga harus disosialisasikan kepada seluruh siswa (anggota kelas), sehingga mereka memahami bahwa tindakan-tindakan dan keputusan yang diambil guru (yang kadang tampak TIDAK SAMA untuk perilaku sama tapi anak yang berbeda) justru berdasarkan prosedur standar ini.
    Baca Juga: Jangan Berikan Hukuman Fisik pada Siswa

    Bangun Hubungan yang Baik dengan Pelanggar Disiplin

    Adalah wajar jika anak-anak melakukan kesalahan bahkan pelanggaran disiplin. Toh orang dewasa pun juga sering melakukannya. Pelanggaran disiplin yang telah disepakati bersama seringkali terjadi karena pemikiran mereka yang masih polos. Mereka seringkali belum dapat memikirkan konsekuensi-konsekuensi terhadap segala perilaku yang mereka lakukan. Atau mungkin mereka lupa bahwa ada peraturan kelas yang melarang mereka untuk melakukan ini...itu...dan sebagainya. Jika terjadi pelanggaran disiplin oleh salah seorang siswa, upayakan untuk memanggil mereka (tanpa perlu diketahui) oleh siswa lainnya dan berbicara dengan baik kepadanya. Buatlah hubungan yang baik dengan anak tersebut sehingga upaya guru memperbaiki pelanggaran disiplin akan berbuah perilaku yang diharapkan.

    Demikian beberapa cara mengatur disiplin di kelas anak-anak SD (sekolah dasar) kelas tinggi. Bagaimana menurut anda?
  • Tips Meningkatkan Kemampuan Interaksi dalam Bahasa Inggris

    Guru Bahasa Inggris seringkali mengeluhkan bahwa peserta didik di kelas yang diampunya sangat rendah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksinya, baik dengan sesama mereka, maupun dengan guru. Memang hal ini bukanlah persoalan sepele pada setiap pembelajaran bahasa asing apapun termasuk pelajaran Bahasa Inggris. Ada beragam faktor yang menyebabkan munculnya permasalahan ini (untuk lebih jelasnya silakan baca tulisan sebelumnya: Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Interaksi Proses Belajar Bahasa Inggris).

    Padahal semua guru Bahasa Inggris pasti tahu betul bahwa latihan-latihan berbahasa melalui percakapan dengan interaksi antara sesama peserta didik sangatlah penting. Karena, sejatinya kemampuan berbahasa Inggris itu adalah sebuah keterampilan yang harus diasah melalui latihan-latihan secara langsung. (baca: Mengapa Interaksi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris itu Penting?)

    Dulu, di blog ini telah dipaparkan bagaimana cara meningkatkan interaksi proses belajar mengajar di kelas secara umum. Silakan baca tulisan tersebut dengan mengklik tautan yang diberikan. Nah, kali ini pada kesempatan ini, kami ingin lebih menajamkannya dengan memberikan beberapa tips terkait agar proses interaksi dalam belajar Bahasa Inggris secara khusus dapat distimulasi dan dipertahankan.

    berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan oleh guru Bahasa Inggris dalam meningkatkan interaksi peserta didik
    bagaimana cara meningkatkan kemampuan interaksi siswa dalam Bahasa Inggris?

    Beberapa tips yang dimaksud yaitu:

    Guru Harus Memperhatikan Proses Belajar Bahasa 

    Untuk mempelajari Bahasa Inggris atau bahasa asing apapun diperlukan suatu proses dengan bantuan guru. Karena itu penting bagi guru untuk memperhatikan proses ini. Di dalam proses ini guru dapat membantu menstimulasi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana kepada pasangan atau kelompok siswa. Misalnya: "What do you have for number 2?", kemudian guru memperhatikan reaksi seluruh kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa-siswa yang mungkin ingin memberi tanggapan. Saat menunjuk salah satu siswa, mungkin guru bisa mengundang dengan mengucapkan pertanyaan sederhana sehingga sangat mudah untuk dijawab semua siswa seperti: "Do you want to answer?" atau pertanyaan mudah lainnya sebelum meminta mereka menjawab soal tersebut. Kemudian ketika siswa atau guru merasa bahwa ditemukan kosa kata baru, siswa dapat diminta atau diberi kesempatan untuk menuliskannya ke dalam buku catatan mereka: kata tersebut beserta artinya dalam Bahasa Indonesia. Ketika siswa menjawab atau bertanya, guru dapat meminta siswa tersebut atau siswa lainnya untuk mengulangi jawaban atau pertanyaan. Misalnya dengan mengatakan: " Can you repeat it again, please." dan sebagainya.

    Mereview Kembali Tugas yang akan Diberikan dalam Proses Interaksi Belajar

    Setiap rencana atau materi ajar Bahasa Inggris harus selalu direview ulang. Berhati-hati dan mempertimbangkan segala aspek untuk mendapatkan proses pembelajaran yang bermutu dan lancar harus dilakukan oleh seorang guru. Ketika guru akan menggunakan sebuah tugas dari buku teks misalnya, guru harus mereview terlebih dahulu tingkat kerumitannya dan mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan kesulitan yang akan mungkin ditemui oleh peserta didik dalam menyelesaikannya. Ketika benar terdapat kemungkinan hambatan demikian, maka guru telah harus menyiapkan sarana untuk membantu mereka mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Jika suatu tugas terlalu rumit dan kemungkinan tidak akan berjalan dengan mulus saat proses pembelajaran dan menghambat proses interaksi berbahasa mereka, lebih baik guru menggantikan tugas tersebut dengan material lain yang lebih baik.

    Menciptakan Atmosfer Kelas yang Mendukung Interaksi Proses Belajar dalam Bahasa Inggris

    Beberapa kelas mungkin memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa dalam melakukan proses interaksi seperti berbicara dalam Bahasa Inggris meskipun apa yang mereka ucapkan masih belum tepat atau salah. Sayangnya, beberapa kelas lainnya tidak demikian. Ketika salah seorang peserta didik mencoba memberanikan diri untuk berinteraksi dengan guru atau dengan teman-teman di kelas, mereka mendapati bahwa kesalahannya menggunakan Bahasa Inggris dapat berujung MALU, maka proses interaksi belajar mengajar di kelas tersebut tidak akan pernah berjalan mulus. Guru perlu menciptakan iklim belajar yang aman dan nyaman. Peserta didik tidak perlu merasa taku dan malu jika melakukan kesalahan dalam berbahasa. Semua peserta didik harus memahami aturan bahwa dilarang keras menertawakan teman yang sedang belajar. Semua orang yang berbicara dihargai dan didengarkan, seberapa kacaupun kalimat atau kata-kata yang diucapkannya. Semua harus menyadari bahwa dalam proses belajar, kesalahan itu adalah hal yang sangat wajar.

    Kelompok yang Dirotasi dengan Tugas yang Sama

    Ketika guru ingin mengajarkan siswa berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama mereka, maka guru dapat mencoba strategi ini. Pilihlah sebuah topik yang akan dibicarakan. Bagi waktu belajar menjadi beberapa sesi, di mana pada setiap sesi tugas yang harus mereka lakukan sama, misalnya saling menanyakan hobi, atau alamat. Proses ini diulang-ulang dengan merotasi atau menukar-nukar anggota kelompok, sehingga mereka tidak hanya melakukannya sekali saja dalam proses interaksinya. Pengulangan-pengulangan dapat membantu mereka memperbaiki secara bertahap kemampuan berhasa Inggris mereka untuk tugas tersebut.

    Paparkan Alasan Pentingnya Mereka Aktif dalam Berinteraksi

    Jika guru sudah maklum betul pentingnya proses interaksi dengan menggunakan Bahasa Inggris secara langsung untuk mempelajarinya, maka seringkali peserta didik tidak memahami ini. Guru perlu menyampaikan kepada mereka walaupun sekilas untuk mengingatkan bahwa dengan berinteraksi secara bebas tanpa merasa takut salah, takut menjadi ejekan karena salah dan sebagainya itu sangat penting. Keterampilan berbahasa mereka harus dilatih secara terus-menerus dengan interaksi langsung antar mereka satu sama lain.

    Memberikan Tugas dengan Variasi Tingkat Kesulitan

    Karena setiap kelas terdiri dari beragam siswa beserta beragam tingkat kemampuan berbahasa Inggris, maka penting bagi guru untuk memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula. Ini harus dilakukan agar mereka memiliki rasa percaya diri mampu mengerjakan, dan tetap memiliki tantangan dalam menyelesaikannya (tugas yang terlalu mudah tidak memberikan tantangan bagi peserta didik dengan kemampuan tinggi tetapi dibutuhkan oleh siswa berkemampuan rendah agar mereka memiliki rasa percaya diri, tugas yang terlalu sulit akan membuat siswa bekemampuan rendah merasa putus asa, tugas yang mudah membuat peserta didik dengan kemampuan lebih tinggi  menjadi bosan). Oleh karena itu variasi sangat penting sehingga semuanya dapat diakomodasi.

    Demikian beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan interaksi siswa dalam berbahasa Inggris. Bagaimana menurut anda?
  • Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Interaksi dalam Belajar Bahasa Inggris Di Kelas

    Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Interaksi dalam Belajar Bahasa Inggris Di Kelas

    Jika Bapak dan Ibu Guru adalah guru Bahasa Inggris, maka tentu akan menyadari pentingnya interaksi secara masif antar sesama peserta didik untuk berbicara dalam bahasa tersebut. Tetapi, walaupun guru telah secara umum menyadari pentingnya hal ini, seringkali menemui kendala di kelasnya ketika meminta peserta didik untuk berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan Bahasa Inggris tersebut.

    Baca tulisan yang berhubungan tentang interaksi dalam proses pembelajaran:

    Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya interaksi antar siswa di dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Faktor-faktor ini bisa hanya muncul secara tersendiri maupun muncul secara bersama-sama dan saling mempengaruhi. Semakin banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya interaksi proses belajar mereka, maka semakin sulit tentu saja, untuk mengurai masalah krusial dalam pembelajaran Bahasa Inggris ini. Berikut faktor-faktor yang dimaksud:

    ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya interaksi belajar bahasa Inggris pada peserta didik.
    ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya interaksi belajar bahasa Inggris pada peserta didik.

    Resistansi Peserta Didik untuk Berinteraksi dalam Bahasa Inggris

    Adalah sebuah kenyataan yang memang benar adanya: terdapat beberapa siswa yang kurang menyukai belajar secara berpasangan atau secara berkelompok. Jadi ketika peserta didik diminta oleh guru untuk saling berinteraksi (berbicara) dalam Bahasa Inggris tentang suatu hal untuk melatih keterampilan berbahasa mereka, justru mereka merasa kegiatan ini tidak berguna, lucu, dan tidak menyenangkan. Ini adalah masalah umum pada daerah atau wilayah, atau bahkan negara manapun yang dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari hanya menggunakan satu bahasa tertentu saja (bukan daerah yang bersifat bilingual atau multilingual). Siswa-siswa di daerah dengan masyarakat yang terdiri dari beragam suku bangsa biasanya cenderung kurang mengalami masalah ini. Mereka telah terbiasa berbicara dalam beragam bahasa, jadi ketika mereka diminta berinteraksi dalam Bahasa Inggris umumnya mereka lebih mudah melakukannya.

    Rasa Rendah Diri, Merasa Jengah dan Lucu (Tidak Nyaman)

    Hal ini semakin buruk bila kebanyakan peserta didik dalam pasangan atau kelompok yang diminta untuk berinteraksi merasa kemampuan berbahasa Inggris mereka sangat rendah. Kurang kepercayaan diri sehingga merasa malu kalau salah dan sebagainya. Guru mungkin dapat membantu mengatasi hal ini secara perlahan dengan meyakinkan mereka bahwa setiap mereka bisa belajar juga melalui kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Belajar tidak melulu melalui orang-orang yang sudah terampil berbahasa Inggris. Jadi tidak rugi untuk tetap mencoba berinteraksi sebisa mungkin.

    Jumlah Siswa yang Terlalu Banyak dalam Satu kelas

    Pada beberapa sekolah, masalah justru muncul karena hal lain yang mungkin kurang disadari oleh guru, yaitu jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas. Jumlah siswa sangat berpengaruh kepada aksesibilitas guru terhadap semua kelompok atau pasangan siswa yang sedang berlatih berinteraksi dalam Bahasa Inggris saat proses pembelajaran. Ketika jumlah siswa yang terlalu banyak, guru akan kesulitan memantai apa saja yang menjadi bahan pembicaraan pasangan-pasangan interaksi atau kelompok-kelompok. Guru kesulitan memastikan apakah mereka benar-benar berinteraksi dengan menggunakan Bahasa Inggris dan kesulitan memberikan umpan balik, koreksi, dan penguatan kepada mereka. Karena itu, sangat perlu bagi setiap sekolah mempertimbangkan berapa jumlah ideal siswa di dalam kelas agar proses interaksi belajar berbahasa Inggris ini benar-benar dapat berlangsung dengan baik. Ini penting karena sebenarnya, pada subjek atau mata pelajaran lainpun demikian.

    Kemampuan Bahasa Inggris yang Terlalu Jauh Berbeda

    Peserta didik dalam pasangan atau kelompok-kelompok yang anggotanya terlalu jauh perbedaan kemampuan berbahasa Inggrisnya pada umumnya akan mengalami kesulitan melakukan interaksi. Biasanya mereka akan mengalami kemacetan karena adanya rasa frustasi dari anggotanya, baik yang kemampuan berbahasanya terlalu baik atau terlalu rendah. Oleh karena itu guru perlu mengatur kelompok-kelompok atau pasangan sehingga perbedaan kemampuan yang terlalu besar ini tidak muncul. Siswa atau peserta didik dengan kemampuan tinggi dapat dipasangkan dengan yang berkemampuan sedikit dibawahnya. Ingat bahwa ini bukan semacam kerja kelompok, tetapi lebih kepada membuat proses bertanya jawab atau berbicara pada setiap kelompok atau pasangan menjadi berjalan dengan lebih lancar.

    Motivasi yang Rendah

    Motivasi belajar jelas sangat berpengaruh dalam proses interaksi latihan berbahasa Inggris di kelas. Oleh karena itu guru perlu menyiapkan material yang menarik sehingga proses ini dapat lebih mudah dilaksanakan. Kreativitas guru diperlukan untuk ini. Menjaga agar jangan sampai pembelajaran Bahasa Inggris membosankan sangatlah penting. Beragam teknik dan strategi perlu diterapkan untuk meningkatkan motivasi belajar bahasa mereka.

    Kekurangan Kosa Kata

    Kekurangan kosa kata atau memahami struktur kalimat juga sangat penting. Ketika peserta didik tidak mempunyai cukup kosa kata dalam Bahasa Inggris yang berkaitan dengan topik yang dijadikan bahan berinteraksi, maka proses interaksi akan macet. Beberapa yang lainnya mungkin terhambat dalam mengungkapkannya menjadi sebuah kalimat yang minimal dapat dipahami oleh pasangannya atau teman-teman di kelompoknya. Untuk mengatasi hal ini guru dapat menyediakan beberapa macam media yang membantu peserta didik untuk dengan cepat memperoleh kosa kata yang diperlukan misalnya dengan daftar kata, flash card, atau tayangan power point. Contoh-contoh struktur kalimat yang dapat digunakan (pola kalimat) juga dapat diberikan untuk membantu mereka.

    Demikian beberapa faktor yang seringkali menjadi penghambat interaksi proses belajar antar peserta didik dalam belajar Bahasa Inggris. Bagaimana menurut anda?
  • Mengapa Interaksi dalam Proses Pembelajaran Bahasa Itu Penting?

    Mengapa Interaksi dalam Proses Pembelajaran Bahasa Itu Penting?

    Interaksi dalam proses pembelajaran bahasa sangat penting. Interaksi yang terjadi di dalam kelas akan membantu peserta didik dalam mengembangkan pembelajaran berbahasa mereka. Selain itu tentunya juga akan menumbuhkan keterampilan sosial mereka. Memaksimalkan interaksi di dalam kelas dalam pembelajaran bahasa adalah merupakan bagian penting dari peran guru sebagai fasilitator. Memang tidak mudah jika belum terbiasa. Interaksi antar peserta didik atau anggota kelas lainnya tidak akan terjadi secara begitu saja, akan tetapi seorang guru harus mempertimbangkan rencana pembelajarannya secara matang sebelum mengajar dan secara khusus memasukkan aspek interaksi ini di dalam perencanaan mengajar itu. Berikut ini ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan interaksi siswa atau peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas.

    Kenyataan di kelas untuk pembelajaran bahasa justru sangat memprihatinkan. Kualitas dan kuantitas interaksi dalam pembelajaran antara semua komponen (siswa dengan siswa, siswa dengan guru) masih sangat kurang. Belum sesuai yang diharapkan oleh kebanyakan guru. Beberapa peserta didik kadang-kadang terkesan malu-malu, atau menganggap remeh interaksi yang diminta guru untuk menerapkan keterampilan berbahasa mereka. Contohnya yang sering terlihat dalam pelajaran Bahasa Asing seperti Bahasa Inggris, ketika mereka diminta untuk saling berinteraksi (bertanya jawab) kepada sesama mereka atau teman didekatnya tentang suatu topik atau hal, tampak nyata bahwa mereka mengalami kesulitan.

    Baca Juga: Faktor-Faktor penyebab Rendahnya Interaksi Proses Belajar Bahasa Inggris

    Secara khusus bisa dikemukakan bahwa interaksi dalam proses pembelajaran bahasa (baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing seperti bahasa Inggris) itu sangat penting, yaitu:

    Ada banyak alasan mengapa interaksi dalam proses pembelajaran bahasa itu sangat penting.
    cukupkan pembelajaran bahasa dengan interaksi seadanya?

    Interaksi yang tinggi menunjukkan partisipasi yang tinggi dalam pembelajaran

    Sudah pasti para guru memaklumi bahwa adanya interaksi yang tinggi di dalam kelas menunjukkan bahwa di dalam kelas itu partisipasi belajarnya tinggi. Kita ketahui bersama bahwa, walaupun peserta didik berada di dalam kelas dan duduk dengan baik itu tidak menjadi jaminan pasti bahwa mereka benar-benar sedang belajar. Mereka bisa duduk dengan baik tetapi pikiran mereka entah kemana dan bukan pada pembelajaran yang sedang berlangsung. Interaksi pada pembelajaran bahasa ditunjukkan dengan adanya percakapan-percakapan antar mereka sesuai dengan topik yang sedang dibelajarkan. Partisipasi sangat penting karena itulah sejatinya proses belajar mereka. Peserta didik yang tidak atau kurang berpartisipasi tentu saja tidak atau kurang memperoleh apa-apa yang hendak diberikan guru untuk mereka kuasai sebagai tujuan pembelajaran. Belajar memerlukan proses aktif. Proses belajar secara aktif dalam hal ini adalah interaksi yang dilakukan melalui percakapan-percakapan yang dilakukan dengan menggunakan bahasa yang sedang dipelajari.

    Interaksi mengasah keterampilan berbahasa peserta didik

    Mengapa guru menghendaki dalam pembelajaran bahasa terdapat banyak interaksi yang berkualitas? Karena sejatinya jika peserta didik atau siswa mempelajari suatu bahasa, berarti mereka sedang mempelajari sebuah keterampilan. Bahasa adalah keterampilan. Dan, para pakar pendidikan telah lama setuju bahwa untuk meningkatkan keterampilan apapun cara terbaiknya adalah dengan berlatih. Interaksi dalam proses pembelajaran bahasa seperti bahasa Inggris bisa dimaknai sebagai latihan. Dengan banyak berinteraksi berarti makin banyak latihan menggunakan bahasa Inggris tersebut.

    Interaksi dalam proses pembelajaran menunjukkan terjadinya pembelajaran kolaboratif

    Ketika siswa saling berinteraksi (bercakap-cakap) pada saat pelajaran bahasa, maka secara tidak langsung akan menciptakan suatu komunitas belajar yang bersifat kolaboratif. Peserta didik dapat saling belajar satu sama lain, menguatkan dan memberi masukan terhadap teman-teman yang berinteraksi dengannya atau sebaliknya menerima penguatan, dan menerima masukan. Kolaboratif learning sampai saat ini dipercaya sebagai salah satu pendekatan terbaik dalam proses belajar seseorang, demikian pula pada pelajaran bahasa.

    Baca Juga: Tips Meningkatkan Interaksi dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris

    Interaksi dalam proses pembelajaran bermakna sosialisasi

    Sudah disebutkan di atas (pada awal tulisan ini) bahwa dengan melakukan interaksi pada proses pembelajaran secara maksimal, maka semua anggota kelas utamanya sesama siswa akan terjadi sosialisasi. Mereka tidak Cuma berlatih menggunakan bahasa asing, tetapi juga melakukan proses bersosial dengan orang-orang di sekitarnya (teman-temannya). Proses sosialisasi antar peserta didik sangat penting sebagai salah satu bekal hidup bagi mereka ketika mereka berada di masyarakat. Seyogyanyalah kelas benar-benar menjadi sebuah model kumpulan warga masyarakat di mana di dalamnya mereka dapat belajar melakukan interaksi sosial yang baik, efektif, dan sesuai norma-norma yang ada.

    Interaksi proses belajar meningkatkan motivasi belajar

    Semakin tinggi kualitas dan kuatitas interaksi dalam proses pembelajaran (baik pembelajaran bahasa ataupun pelajaran apa saja), akan dapat meningkatkan motivasi belajar pada diri peserta didik. Dengan melakukan interaksi, peserta didik akan dapat menemukan suatu hal yang mampu memotivasi mereka untuk belajar lebih baik. Interaksi mendukung iklim kelas yang kondusif. Dengan segala poin-poin sebelumnya itu, maka melalui interaksi proses belajar di kelas motivasi belajar mereka juga akan meningkat dengan sendirinya.

    Baca Juga:
    Bagaimana Melakukan Interaksi Proses Pembelajaran yang Baik?
  • Model-Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

    Model-Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


    Kalau ditelusuri sejarah lahirnya penelitian tindakan (action research), maka nama seorang psikolog sosial Kurt Lewin  tidaklah dapat dipisahkan. Ia adalah orang yang pertama kali mengembangkan model penelitian tindakan. Sementara penelitian tindakan kelas (PTK) adalah salah satu terapan penelitian tindakan dalam praktik di dunia pendidikan. Munculnya penelitian tindakan kelas ini menunjukkan objek dan subjek penelitian yang berbeda saja dalam action research. Perlu diketahui bahwa penelitian tindakan (action research) dilakukan di berbagai bidang. Tidak hanya untuk dunia pendidikan (di kelas, dalam proses pembelajaran di sekolah), tetapi juga untuk bidang-bidang lain. Kembali menyebut Kurt Lewin, sebenarnya penelitian yang mula-mula dilakukannya itu bukanlah penelitian tindakan kelas (PTK) tetapi penelitian tindakan untuk memperbaiki pembangunan terpadu berkaitan dengan perumahan warga negara Amerika pasca Perang Dunia II di tahun 1946.

    Sampai saat ini penelitian tindakan kelas (classroom-based action research) terus berkembang dan berevolusi. Muncul berbagai model-model penelitian tindakan kelas untuk membuat penelitian tindakan menjadi lebih baik dan terarah.

    Lalu bagaimana dengan salah satu bentuk terapan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan di sekolah atau kelas-kelas (atau dengan kata lain Penelitian Tindakan Kelas)? Sampai saat ini berkembang pula berbagai model untuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas dan penelitian tindakan sekolah.

    Model PTK Menurut Stephen Kemmis dan Robin McTaggart

    Model penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan McTaggart adalah model PTK yang paling banyak digunakan oleh praktisi pendidikan di Indonesia (guru dan kepala sekolah). Kalau diamati secara seksama, maka alur model penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan McTaggart tampak sangat sederhana. Dalam model PTK menurut Kemmis dan McTaggart ini ditunjukkan secara tegas 4 tahap siklus PTK yang terdiri dari plan →→ act → observe → reflect lalu kembali lagi ke plan → act → observe → reflect. Bentuk skema pelaksanaan siklus-siklusnya seperti spiral.

    Model PTK menurut Kemmis dan McTaggart
    Model PTK menurut Kemmis dan McTaggart


    Stephen Kemmis mendefinisikan ptk sebagai sebuah bentuk inkuiri yang dilakukan secara reflektif oleh orang-orang atau partisipan yang terlibat di dalam penelitian pada suatu masalah sosial (termasuk pendidikan) dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Model PTK Menurut Ebbut

    Menurut Dave Ebbut, ptk adalah suatu studi yang sistematis dari praktek-praktek pendidikan oleh sekelompok orang atau partisipan melalui tindakan yang mereka praktekkan sendiri dan melalui refleksi yang juga mereka lakukan sendiri terhadap efek dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Jadi, di dalam ptk menurut Ebbut, peneliti mencoba gagasan-gagasan baru untuk melihat peningkatan atau perubahan sesuatu, dalam bentuk efek nyata pada suatu situasi.

    Lalu model PTK (penelitian tindakan kelas) menurut Ebbut dapat dijelaskan sebagai berikut. Penelitian tindakan dimulai dari suatu ide umum yang kemudian diamati sehingga kemudian disusunlah perencanaan untuk melakukan tindakan I. Saat dan setelah melakukan tindakan 1 ini dilakukan monitoring dan pengamatan untuk melihat bagaimana hasil dari tindakan tersebut terhadap pencapaian tujuan penelitian yang diinginkan. Setelah itu, penelitian tindakan akan berlanjut pada pelaksanaan tindakan II, tetapi ada dua kemungkinan untuk tindakan II ini. Pertama, peneliti dapat merubah keseluruhan rencana dan kembali mengulang tindakan I dengan ide umum yang benar-benar baru. Atau, Kedua, dengan merebisi rencana dan melanjutkan dengan Tindakan II. Untuk lebih jelasnya silakan perhatikan gambar berikut.

    Penelitian tindakan dimulai dari suatu ide umum yang kemudian diamati sehingga kemudian disusunlah perencanaan untuk melakukan tindakan I. Saat dan setelah melakukan tindakan 1 ini dilakukan monitoring dan pengamatan untuk melihat bagaimana hasil dari tindakan tersebut terhadap pencapaian tujuan penelitian yang diinginkan. Setelah itu, penelitian tindakan akan berlanjut pada pelaksanaan tindakan II, tetapi ada dua kemungkinan untuk tindakan II ini. Pertama, peneliti dapat merubah keseluruhan rencana dan kembali mengulang tindakan I dengan ide umum yang benar-benar baru. Atau, Kedua, dengan merebisi rencana dan melanjutkan dengan Tindakan II.
    Model PTK menurut Ebbut


    Memang jika diuraikan dengan kata-kata bagaimana perbedaan setiap model PTK yang diberikan di sini akan justru membuatnya tampak rumit. Oleh karena itu, perbedaan setiap model PTK (penelitian tindakan kelas ini) justru lebih mudah dipahami melalui diagram alir yang diberikan. Berikut untuk 2 model PTK lainnya (Model PTK Elliot dan Model PTK menurut McKernan) kami sajikan dalam bentuk diagram semata tanpa memberika penjelasan berbentuk narasi yang akan tampak berbelit dan mubajir.

    Model PTK Menurut Elliot

    Model PTK menurut Elliot ini walaupun digambarkan dengan diagram alir atau bagan yang berukuran besar dan rinci, akan tetapi model ini sebenarnya justru sangat mudah dipahami. Sebagaimana model-model ptk lainnya, model ptk yang diajukan oleh Elliot ini juga terdiri atas siklus-siklus yang pada dasarnya adalah pengulangan siklus sebelumnya.

    Siklus PTK yang pertama selalui dimulai dengan identifikasi ide awal untuk mencari gagasan dalam upaya perbaikan pelaksanaan pembelajaran bagi guru peneliti.

    Model PTK menurut Elliot ini walaupun digambarkan dengan diagram alir atau bagan yang berukuran besar dan rinci, akan tetapi model ini sebenarnya justru sangat mudah dipahami. Sebagaimana model-model ptk lainnya, model ptk yang diajukan oleh Elliot ini juga terdiri atas siklus-siklus yang pada dasarnya adalah pengulangan siklus sebelumnya.
    Model PTK menurut ELLIOT

    Model PTK Menurut McKernan

    Pada model PTK McKernan, kita dapat melihat bahwa permulaan siklus I dimulai dari adanya situasi atau masalah sehingga diperlukan adanya suatu tindakan perbaikan. Setelah guru peneliti menyadari adanya kebutuhan untuk memperbaiki tindakan ini berdasarkan situasi yang dilihatnya secara nyata, maka mulailah proses perumusan masalah, selanjutnya dilakukan need assessment (asesmen yang ditujukan untuk menemukan apa sebenarnya kebutuhan yang harus dipenuhi agar situasi yang yang menjadi masalah tadi daat dipecahkan). Berdasarkan penelusuran berbagai literatur dan kepustakaan, atau berbekal pengetahuan yang dimiliki oleh guru peneliti, maka diperoleh suatu hipotesis ide, yang kemudian dikembangkan dalam bentuk rencana pembelajaran untuk perbaikan situasi tersebut. Setelah perencanaan dilakukan implementasi perubahan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun secara seksama. Jika tindakan sudah dilakukan maka kemudian dilakukan lagi tahapan berikutnya (yang merupakan tahapan terakhir pada siklus I), yaitu mengevaluasi tindakan yang sudah diimplementasikan tadi.


    model PTK McKernan, kita dapat melihat bahwa permulaan siklus I dimulai dari adanya situasi atau masalah sehingga diperlukan adanya suatu tindakan perbaikan. Setelah guru peneliti menyadari adanya kebutuhan untuk memperbaiki tindakan ini berdasarkan situasi yang dilihatnya secara nyata, maka mulailah proses perumusan masalah,
    Model PTK menurut McKernan

    Jika ternyata situasi dan masalah masih belum membaik, atau mulai membaik tetapi belum sampai pada target yang ingin dicapai oleh guru peneliti, maka dilakukanlah siklus II.

    Demikian beberapa model penelitian tindakan kelas atau PTK.  Salah satunya model ini dapat dipilih dalam melaksanakan sebuah PTK. Sekali lagi kami ingatkan walaupun setiap model memiliki alur yang berbeda, akan tetapi pada hakikatnya sama saja. Pemodelan-pemodelan ini dibuat untuk membantu para guru peneliti dalam melaksanakan PTK secara lebi gampang dan tergambar secara jelas.
  • 4 Tahap dalam Sebuah Siklus PTK

    4 Tahap dalam Sebuah Siklus PTK


    Penelitian tindakan kelas atau biasa disingkat sebagai PTK merupakan jenis penelitian yang sangat khas. Salah satu ciri khas penting pada PTK adalah adanya siklus-siklus dan pada setiap siklus ini terdapat 4 tahapan yang mesti dilalui. Adapun keempat tahap itu adalah: (1) plan (merencanakan); (2) act (tindakan); (3) observe (observasi); dan (4) reflect (berpikir reflektif atau refleksi).

    Ke-4 tahapan-tahapan di atas akan menunjang sebuah siklus PTK. Model apapun yang digunakan dalam metode penelitian tindakan kelas pada prinsipnya selalu menggunakan 4 tahapan tersebut, baik secara tersirat maupun secara langsung tertulis pada bagian metodologinya.

    Sekarang marilah kita bahas satu per satu tahapan-tahapan pada siklus penelitian tindakan kelas di atas.

    Plan (Merencanakan)

    Pada sebuah penelitian tindakan kelas, peneliti yang merupakan seorang guru setelah menemukan permasalahan di dalam kelas atau pembelajarannya, maka pada ia dapat memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui sebuah kegiatan penelitian. Ini tentu sangat bagus untuk guru yang bersangkutan karena dengan melakukan penelitian tindakan kelas atau PTK ia akan memperoleh berbagai keuntungan, seperti angka kredit untuk kenaikan pangkat dan peningkatan profesionalismenya dalam karir sebagai guru. Lalu ketika permasalahan dapat diidentifikasi, maka selanjutnya guru peneliti harus membuat perencanaan. Hal ini dilakukannya dalam tahapan pertama pada siklus pertama PTK-nya. Ia akan merencanakan langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan di kelasnya, membuat berkas-berkas atau file yang dibutuhkan, hingga kelengkapan alat dan bahan mengajar yang berkaitan dengan pelaksanaan tahapan selanjutnya yang disebut act (tindakan). Hal penting yang perlu diingat ketika melakukan perencanaan adalah sifat fleksibel dari perencanaan itu sendiri. Jadi perencanaan juga perlu memperhatikan hal-hal yang bersifat strategis untuk kelancaran pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan.

    Ada 4 tahap penting dalam setiap siklus PTK, yaitu plan, act, observe, dan reflect. Pahami ke-4-nya
    Ada 4 tahap penting dalam setiap siklus PTK, yaitu plan, act, observe, dan reflect. Pahami ke-4-nya

    Act (Tindakan)

    Sebagai seorang peneliti, tentu saja guru yang melaksanakan PTK haruslah berpedoman pada segala perencanaan yang dibuatnya. Dengan demikian ia benar-benar berada “on the track”. Segala kegiatannya terpantau dengan baik karena ini akan menjadi bagian dari data yang dikumpulkan. Pada saat melaksanakan tindakan untuk melakukan perbaikan menuju tujuan yang ingin dicapai, guru si peneliti ini harus mampu meningkatkan praktek mengajarnya, meningkatkan kemampuan berkolaborasi dengan sejawat yang menjadi partner untuk berdiskusi dan membantu pelaksanaan PTK yang dilakukan, serta meningkatkan kondisi pembelajaran di kelasnya.

    Observe (Melakukan Pengamatan atau Observasi)

    Ketika tindakan dilaksanakan di kelas oleh seorang guru peneliti, maka tindakan-tindakan perbaikan yang dilakukannya sudah barang tentu harus diamati dengan seksama untuk melihat bagaimana hasil implementasi tindakan-tindakan tersebut. Pada proses ini nantinya akan dibutuhkan beragam instrumen pengumpul data. Guru peneliti dapat menjadi guru sekaligus pengamat dalam penelitiannya. Akan tetapi untuk menjaga objektifitas data yang diperoleh dan dikumpulkan, sebaiknya beberapa jenis pengamatan dilakukan oleh teman sejawat. Jenis pengamatan yang dimaksud misalnya, bagaimana peningkatan kemampuan guru mengelola suatu pembelajaran, bagaimana peningkatan perbaikan kondisi pembelajaran di kelas, dan beberapa jenis pengamatan lainnya yang dengan memakai pengamatan orang lain (teman sejawat) akan dapat dilihat dan ditemukan hal-hal baru yang mungkin tidak disadari oleh si guru peneliti. Berkenaan dengan instrumen perekam data yang digunakan juga harus memberikan fleksibelitas kepada pengamat dalam menambahkan atau mencatat informasi berharga yang mungkin tidak dengan begitu baik terekam dalam instrumen data yang telah dikembangkan oleh guru peneliti.

    Reflect (Melakukan Refleksi/Berpikir Reflektif)

    Guru peneliti harus melanjutkan tahap penelitian tindakan kelasnya (ptk) dengan melakukan refleksi (berpikir reflektif) terhadap semua perencanaan, tindakan dan proses observasi yang dilakukan sebelumnya. Melalui proses berpikir reflektif inilah akan muncul gagasan-gasan baru untuk memulai siklus berikutnya dalam penelitian tindakan yang dilaksanakannya. Untuk mempermudah proses berpikir reflekstif ini, guru peneliti sebaiknya melakukannya secara bersama-sama dengan observer (pengamat teman sejawat). Pada tahapan ini secara kolaboratif guru peneliti dengan pengamat melakukan diskusi tentang, bagaimana hasil penerapan tindakan yang telah dilakukan, mengapa hal tertentu bisa terjadi, langkah apa yang nanti akan dilakukan? Dan seterusya. Hal ini penting karena setiap siklus baru dalam penelitian tindakan kelas (PTK) memang harus didasarkan pada kajian logis terhadap suatu situasi yang muncul dalam sebuah pembelajaran. Hasil proses refleksi ini kemudian dimanfaatkan untuk memodifikasi atau menyempurnakan perencanaan, tindakan, dan observasi yang telah dilakukan pada siklus sebelumnya. Ini adalah tonggak awal untuk memulai siklus PTK yang baru sekaligus tonggak akhir penyelesaian siklus sebelumnya.

    Demikian 4 tahapan pada sebuah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan oleh guru. Semoga bermanfaat. Wassalam.
  • Syarat dan Tata Cara Pengusulan Angka Kredit Guru IV/b Ke Atas

    Ada syarat dan tata cara terbaru tentang pengusulan angka kredit guru dengan pangkat dan golongan IV/b ke atas. Ini didasarkan pada telah disosialisasikan dan diedarkannya Surat Edaran Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) No. 67506/A3.3/KP/2016 yang tertanggal 13 Desember 2016 barusan.

    Jadi ini berarti sejak tanggal 1 Januari 2017, pengusulan angka kredit guru sebagaimana disebutkan di atas tidak lagi melalui surat ke Kotak Pos (PO.BOX) Dirjen GTK Kemdikbud (Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Entah mengapa hal ini diberlakukan. Sebagai tambahan informasi, dari yang saya peroleh melalui kegiatan Diklat Pengembangan Karier PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) di pertengahan Mei 2016 lalu, bahwa berkas usulan penilaian angka kredit guru IV/b Ke Atas yang masuk ke Dirjen GTK melalui kotak pos tersebut mencapai 2000 berkas usulan. Ini kemungkinan menyebabkan personil penilai angka kredit guru di Dirjen GTK menjadi kewalahan. Dan diinformasikan juga bahwa berkas yang diterima pengusulannya hanya sekitar 200 berkas. Kebanyakan permasalahan yang menyebabkan ditolaknya usul angka kredit guru adalah isu plagiasi dan sebagainya, terkait karya tulis yang dilampirkan (bagian PKB - Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan).

    Bila nantinya penyampaian usulan angka kredit guru ini dilaksanakan di daerah (LPMP) yang ditunjuk sebagaimana Surat Edaran Kemdikbud dimaksud, maka tentunya akan lebih mempermudah guru dalam memperbaiki atau melengkapi usulan angka kreditnya jika terdapat kekurangan-kekurangan atau perlu perbaikan. Jadi menurut saya, ini justru akan mempermudah guru dari pangkat dan golongan IV/b ke Atas untuk proses pengusulan angka kredit mereka.
    Download Surat Edaran Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tentang Pengusulan Angka Kredit Guru Golongan IV/b Ke Atas Nomor: 67506/A3.3/KP/2016 tanggal 13 Desember 2016 (berlaku mulai tanggal 1 Januari 2017).
    Download Surat Edaran Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tentang Pengusulan Angka Kredit Guru Golongan IV/b Ke Atas Nomor: 67506/A3.3/KP/2016 tanggal 13 Desember 2016 (berlaku mulai tanggal 1 Januari 2017).

    Pada saat usulan masih harus dikirim ke PO BOX Dirjen GTK, para guru tentu tidak bisa atau sangat sulit melacak apakah berkas usulan mereka sudah sampai atau tidak, apakah sudah dikoreksi atau tidak, dan kapan akan dikembalikan kepada guru yang bersangkutan. Jadi intinya ini justru untuk meningkatkan dan meperbaiki pelayanan kepada guru-guru yang ingin memperoleh kenaikan pangkat. Jadi keluarnya Surat Edaran Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) No. 67506/A3.3/KP/2016 yang tertanggal 13 Desember 2016 untuk Pengusulan Angka Kredit Guru Paada Pangkat dan Golongan IV/b Ke Atas ini patut diapresiasi dan disyukuri. Semoga semakin banyak guru-guru yang mampu mencapai pangkat dan golongan yang lebih tinggi hingga ke IV/c dan IV/d.

    Lalu bagaimana dengan nasib berkas usulan yang masuk melalui PO BOX Dirjen GTK sampai tanggal 31 Desember 2016? Berkas-berkas yang sudah dikirim ke Jakarta tersebut akan tetap diproses dan diperiksa oleh Dirjen Pendidikan jenjang masing-masing. Dan jika ada berkas yang masuk sejak tanggal 1 Januari 2017 nanti tidak akan diproses lagi karena sudah bukan kewenangan Dirjen GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) tetapi sudah dialihkan menjadi kewenangan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang telah ditunjuk sesuai daftar yang kami berikan di bawah ini.

    Ada 25 LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang tersebar di beberapa provinsi untuk tempat pengusulan angka kredit guru ini. Berikut daftarnya:
    1. LPMP Jawa Timur untuk wilayah Jawa Timur
    2. LPMP Jawa Barat untuk wilayah Jawa Barat
    3. LPMP Jawa Tengah untuk wilayah Jawa Tengah
    4. LPMP DKI Jakarta untuk wilayah DKI Jakarta
    5. LPMP D.I. Yogyakarta untuk wilayah D.I. Yogyakarta
    6. LPMP Banten untuk wilayah Banten
    7. LPMP Aceh untuk wilayah Aceh
    8. LPMP Sumatera Utara untuk wilayah Sumatera Utara
    9. LPMP Sumatera Selatan untuk wilayah Sumatera Selatan
    10. LPMP Sumatera Barat untuk wilayah Sumatera Barat
    11. LPMP Riau untuk wilayah Riau
    12. LPMP Lampung untuk wilayah Lampung 
    13. LPMP Bengkulu untuk wilayah Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau
    14. LPMP Sulawesi Selatan untuk wilayah Sulawesi Selatan
    15. LPMP Sulawesi Utara untuk wilayah Sulawesi Utara
    16. LPMP Sulawesi Tenggara untuk wilayah Sulawesi Tenggara
    17. LPMP Sulawesi Barat untuk wilayah Sulawesi Barat
    18. LPMP Sulawesi Tengah untuk wilayah Sulawesi Tengah
    19. LPMP Gorontalo untuk wilayah Gorontalo
    20. LPMP Bali untuk wilayah Bali
    21. LPMPKalimantan Tengah untuk wilayah Kalimantan Tengah
    22. LPMP Kalimantan Selatan untuk wilayah Kalimantan Selatan
    23. LPMP Kalimantan Timur untuk wilayah  Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara
    24. LPMP Nusa Tenggara Barat untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
    25. LPMP Maluku untuk wilayah Maluku, Papua, Papua Barat, dan Maluku Utara
    Adapun tata cara pengusulan berkas angka kredit guru pangkat/golongan IV/b ke atas adalah sebagai berikut:
    1. Berkas usulan diajukan kepada Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud u.p. Kepala LPMP yang ditunjuk selaku Sekretariat Tim Penilai Pusat yang Berkedudukan di LPMP melalui PO BOX yang nanti akan diumumkan (ditentukan) kemudian.
    2. Berkas usulan kepada LPMP dapat diajukan mulai tanggal 15 Januari 2017
    3. Berkas usul penilaian dan penetapan angka kredit sebanyak 1 set terdiri atas: (a) DUPAK serta bukti fisiknya; (b) PAK terakhir; (c) Keputusan Kenaikan Pangkat Terakhir; (d) PPKP atau Penilaian Prestasi Kerja Pegawai untuk 1 tahun terakhir; (e) Karpeg; (f) Konversi NIP atau Nomor Induk Pegawai; (g) ijazah terakhir, yang jika belum diajukan angka kreditnya harus dilengkapi Surat Ijin Belajar dan harus dilampiri SK Tugas Belajar, SK Pembebasan Sementara dari Jabatan Fungsional Guru sertaSK Pengangkatan Kembali dalam Jabatan Fungsional Guru.
    4. Surat Laporan Hasil Penilaian Angka Kredit yang ditandatangani oleh Sekretaris Tim Penilai Pusat yang berkedudukan di Jakarta apabila ada.
    Untuk lebih jelasnya, anda dapat mendownload Surat Edaran Kemdikbud tentang Pengusulan dan Penetapan Angka Kredit Guru Pangkat Golongan IV/b Ke Atas di bawah ini.

    Download Surat Edaran Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tentang Pengusulan Angka Kredit Guru Golongan IV/b Ke Atas Nomor: 67506/A3.3/KP/2016 tanggal 13 Desember 2016 (berlaku mulai tanggal 1 Januari 2017).
  • Tes Sebagai Alat Bantu Pembelajaran

    Tes Sebagai Alat Bantu Pembelajaran

    Tes tentunya tidak hanya sebagai alat untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik. Akan tetapi, tes hasil belajar juga seharusnya dapat membantu dan menjadi penguatan beragam aspek dalam pembelajaran. Tes dapat membantu baik guru maupun peserta didik itu sendiri, misalnya untuk mengecek kesiapan belajar, memonitor proses pembelajaran, mendiagnosis kesulitan belajar, serta mengevaluasi hasil belajar peserta didik.

    Tes adalah alat yang paling umum digunakan dalam mengukur hasil belajar peserta didik di kelas. Sayangnya, beberapa guru tidak sampai kepada pemahaman beragam fungsi tes yang lain selain sebagai alat evaluasi hasil belajar, sebagaimana fungsi-fungsi yang disebutkan di atas. Dan untuk memperoleh alat atau tes yang bagus guru haruslah memahami bagaimana cara mengembangkan tes dengan baik dan benar. Seseungguhnya, fungsi dari tes adalah untuk  meningkatkan proses pembelajaran peserta didik. Itu adalah esensi sebenarnya dari suatu tes.

    Bagaimana melakukan tes di saat proses pembelajaran?
    Telah disebutkan di atas bahwa tes adalah alat yang sangat bermanfaat sebagai alat bantu belajar. Karena itu sangatlah penting untuk menjadikan tes sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Itulah sebabnya tes harus dirancang bersama-sama perancangan proses pembelajaran. Jika kita memperhatikan urutan sebuah proses pembelajaran, maka kita akan menemukan 3 bagian utama pembelajaran, yaitu: pendahuluan, pada saat proses pembelajaran berlangsung, dan di akhir pembelajaran. Jika guru ingin tes bermanfaat dalam proses pembelajaran dan meliputi ketiga tahap ini, maka ia harus merancang pertanyaan-pertanyaan untuk ketiga bagian utama proses pembelajaran tadi dengan tujuan tes (pertanyaan-pertanyaan) itu masing-masing.

    Tes adalah alat yang paling umum digunakan dalam mengukur hasil belajar peserta didik di kelas. Sayangnya, beberapa guru tidak sampai kepada pemahaman beragam fungsi tes yang lain selain sebagai alat evaluasi hasil belajar.
    tes sebagai alat bantu pembelajaran


    Tes di Kegiatan Awal (Pendahuluan) Pembelajaran

    Pada tahapan kegiatan awal (pendahuluan) pembelajaran ini guru harus memperhatikan dua hal, yaitu pengetahuan atau keterampilan apakah yang telah dimiliki oleh peserta didik sebelum mengikuti pembelajarannya, dan yang kedua akan dikembangkan ke arah mana pengetahuan dan keterampilan peserta didik selama proses pembelajaran nanti.

    Untuk mengetahui pengetahuan atau keterampilan apa saja yang telah dikuasai atau dimiliki oleh peserta didik guru dapat melakukan pretes. Tes ini (pretes) dimaksudkan untuk melihat bagaimana kesiapan peserta didik mengikuti proses pembelajaran. Tes untuk ini diberikan pada awal sekali pada suatu unit atau kompetensi dasar tertentu. Melalui pretes peserta didik dapat diketahui apakah sudah menguasai pengetahuan prasyarat yang harus dimiliki untuk melanjutkan proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan lancar.

    Untuk mengetahui dikembangkan ke arah mana pengetahuan dan keterampilan peserta didik, guru kemudian dapat memberikan tes penempatan. Tes semacam ini diperlukan untuk mengetahui jangan-jangan ada peserta didik yang telah menguasai suatu pengetahuan atau keterampilan yang akan diajarkan. Dengan tes penempatan, guru dapat menentukan apakah peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya secara lebih mendalam. Peserta didik yang telah menguasai pengetahuan dan keterampilan  yang akan diajarkan dapat ditempatkan pada kelompok advanced (tingkat lanjut) dan dibedakan dari peserta didik yang lainnya.

    Sebenarnya tes penempatan tidak selalu dibutuhkan pada suatu proses pembelajaran. Jika guru telah mengenal seluruh anggota kelasnya dengan baik, maka biasanya guru akan tahu mana-mana saja peserta didik yang memang dapat dikategorikan ke dalam kelompok tingkat lanjut ini. Tes penempatan sangat bermanfaat bagi guru jika ia belum mengenal peserta didik di kelasnya dengan baik.
    Baca Juga: Metode-Metode dalam Psikologi Pendidikan

    Tes Pada Saat Proses Pembelajaran Berlangsung

    Pada saat proses pembelajaran berlangsung, maka guru dapat melakukan paling tidak 2 jenis tes, yaitu tes formatif dan tes diagnostik. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, maka ada 2 pertanyaan penting yang harus dijawab oleh seorang guru, yaitu pertama: pada tugas pembelajaran yang mana peserta didik telah mengalami kemajuan yang memuaskan, dan pada tugas pembelajaran mana peserta didik masih memerlukan bantuan, dan pertanyaan kedua adalah: peserta didik yang mana saja yang mengalami hambatan dalam proses belajar sehingga membutuhkan remedial?

    Ketika guru ingin menjawab pertanyaan pertama, maka guru dapat melakukan tes yang disebut sebagai tes formatif. Tes formatif dapat didefinisikan sebagai tes yang diberikan kepada peserta didik saat proses pembelajaran berlangsung untuk mengetahui kemajuan pembelajaran peserta didik pada suatu segmen pembelajaran tertentu. Pada praktiknya di sekolah guru sering menyebut tes formatif sebagai ulangan harian. Atau ada juga yang menyebutnya sebagai kuis di akhir bab atau sebuah unit pembelajaran. Hasil tes ini harus digunakan untuk meningkatkan pembelajaran, dan sebaiknya bukan sebagai alat untuk menghakimi peserta didik. Dengan tes formatif guru dapat menyesuaikan pembelajarannya sehingga semua peserta didik mendapatkan pembelajaran yang sesuai untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan sesuai potensi mereka masing-masing. Jika pada tes formatif ada peserta didik yang gagal, maka guru harus mengajarkan ulang (memberikan pelajaran remedial) kepada mereka sembari memberikan pembelajaran pengayaan kepada peserta didik lain yang telah sukses.

    Nah, selanjutnya ketika pembelajaran remedial telah diberikan (pelajaran yang diulang) untuk peserta didik yang mengalami kegagalan di tes formatif masih mengalami kegagalan lagi, maka saatnya guru harus melakukan tes diagnostik. Tes diagnostik ini dilakukan untuk menyelidiki secara lebih mendalam mengapa seorang atau beberapa peserta didik mengalami kegagalan dalam pelajarannya padahal telah dilakukan remedial. Tes diagnostik berupaya mencari penyebab-penyebab kegagalan yang terjadi. Misalnya saja, pada seorang peserta didik, dalam pembelajaran tentang hukum Coulomb (fisika) perlu didiagnosa di mana kesulitan peserta didik tersebut sehingga kesulitan menjawab soal-soalnya, apakah karena ia tidak mampu dalam perkalian, pembagian, perkalian bingan berpangkat, mencari akar kuadrat, atau apakah karena tidak memahami konsep dasar fisikanya. Setelah permasalahan yang dihadapi peserta didik diketahui, maka guru dapat memberikan bantuan yang lebih tepat dan efektif untuk setiap peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. Walaupun seakan-akan terlihat mirip tujuan antara tes formatif dengan tes diagnostik, dapat digarisbawahi bahwa untuk tes diagnostik bertujuan untuk menyelidiki secara lebih mendalam sebab-sebab kesulitan dan hambatan belajar pada peserta didik.
    Baca juga: Cara Membuat Soal Online di Google Drive

    Tes Pada Akhir Pembelajaran

    Di akhir proses pembelajaran dilakukan sebuah tes yang disebut sebagai tes sumatif. Tes ini secara praktik dilakukan oleh guru misalnya pada akhir pertengahan semester, di akhir semester, di akhir tahun. Tes ini penting untuk menjawab pertanyaan seperti: Apakah peserta didik telah menguasai  tugas-tugas belajar untuk suatu mata pelajaran? Apa grade yang harus diberikan kepada peserta didik itu? Ciri khas tes sumatif adalah cakupan materi pembelajaran yang luas dan banyak. Secara umum, tes sumatif lebih banyak digunakan untuk keperluan grading (perankingan) atau menentukan naik kelas/tidak naik kelas, namun demikian hasil tes sumatif sebenarnya tetap dapat digunakan untuk mengetahui efektivitas suatu proses pembelajaran. Tentu saja efektivitas di sini adalah dalam rentang waktu yang lebih panjang misal setengah semester, satu semester, atau satu tahun pelajaran.
  • Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah (Satuan Pendidikan)

    Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah (Satuan Pendidikan)


    Pendidikan karakter adalah segala usaha yang dilakukan dalam mendidik peserta didik atau siswa sehingga memiliki karakter yang dikehendaki yaitu karakter-karakter yang sesuai dengan nilai-nilai moral, berbangsa dan bernegara serta etika dan budaya. Beberapa nilai karakter utama, sebagaimana disebutkan oleh Kemdikbud ada 18 yaitu:
    1. Religius
    2. Jujur
    3. Toleransi
    4. Disiplin
    5. Kerja Keras
    6. Kreatif
    7. Mandiri
    8. Demokratis
    9. Rasa ingin tahu
    10. Semangat kebangsaan
    11. Cinta tanah air
    12. Menghargai prestasi
    13. Bersahabat/komunikatif
    14. Cinta damai
    15. Gemar membaca
    16. Peduli lingkungan
    17. Peduli Sosial
    18. Tanggung jawab

    Religius adalah karakter yang ditunjukkan siswa dengan menjalankan ibadah agamanya masing-masing, toleran terhadap teman atau orang lain yang juga melaksanakan ibadahnya, dan selalu menjaga kerukunan antar umat beragama.  Karakter jujur adalah adalah karakter yang sangat penting selain religius. Kita bisa melihat kondisi bangsa ini yang penuh dengan deraan kasus korupsi, mark up, dan sebagainya. Diharapkan dengan memiliki karakter jujur ini, peserta didik akan menjadi generasi penerus yang lebih baik, di mana setiap ucapan dan tindakannya dapat dipercaya. Karakter tolerasi merupakan karakter utama ketiga. Karakter ini tidak hanya bersangkut paut dengan kehidupan antar umat beragama, tetapi juga dimaksudkan adanya karakter toleran dalam hal suku, etnis, pendapat, hingga tindakan yang ditempuh oleh orang lain.

    bagaimana cara melakukan penumbuhan dan penguatan pendidikan karakter di sekolah atau satuan pendidikan? membaca adalah salah satu contohnya
    pembiasaan adalah salah satu metode penumbuhan dan penguatan karakter


    Disiplin adalah karakter penting yang ke-4. Adanya kepatuhan dan sesuai aturan adalah ciri khas dari karakter disiplin. Sementara karakter kerja keras menunjukkan adanya kemauan yang kuat dengan dibarengi usaha dan upaya untuk mencapai suatu keberhasilan. Dengan karakter kerja keras, generasi bangsa ini tidak akan mudah menyerah sehingga dapat lebih maju dan berkarya untuk bangsanya. Karakter kreatif diperlukan untuk mendampingi karakter kerja keras, sehingga dalam melakukan hal-hal yang diperlukan peserta didik dapat melakukannya dengan cara-cara baru yang lebih baik, lebih mudah, lebih efisien dengan daya cipta dan kreasi yang dimilikinya. Peserta didik atau anak-anak kita juga harus memiliki karakter mandiri sehingga menjadi pribadi yang kuat dan tak harus bergantung pada orang lain.

    Karakter demokratis merupakan karakter yang ditunjukkan dengan cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Sementara karakter rasa ingin tahu adalah karakter yang terlihat dalam sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. Semangat kebangsaan adalah karakter yang ditunjukkan dengan cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sementara karakter cinta tanah air adalah suatu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

    Karakter menghargai prestasi adalah karakter yang terwujud dalam bentuk sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Karakter yang bersahabat atau komunikatif maksudnya adalah suatu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Karakter cinta damai merupakan perwujudan dari sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

    Karakter gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. karakter menghargai prestasi adalah karakter yang terwujud dalam bentuk sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Karakter yang bersahabat atau komunikatif maksudnya adalah suatu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Karakter cinta damai merupakan perwujudan dari sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Karakter peduli lingkungan adalah Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Karakter peduli sosial adalah Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Karakter bertanggung jawab adalah Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

    Ke-18 nilai karakter utama itu harus dikembangkan secara optimal di sekolah-sekolah dengan melalui berbagai strategi.

    Penguatan adalah upaya yang dilakukan untuk mempertegas pencapaian suatu tujuan. Dalam hal ini, jika kita mengacu pada penguatan pendidikan karakter berarti kita sedang mempertegas pencapaian terbentuknya karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai moral, berbangsa dan bernegara, serta etika dan budaya. Penguatan pendidikan karakter dimaksudkan karena saat ini telah terjadi kemerosotan nilai-nilai karakter pada generasi bangsa. Oleh karena diperlukan suatu usaha yang lebih tegas demi menumbuhkan nilai-nilai karakter tersebut secara lebih kuat dan mewujud pada diri anak-anak kita.

    Pendidikan karakter di sekolah (satuan pendidikan) dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemerintah sendiri melalui kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membuat garis-garis kebijakan bagaimana cara mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di sekolah atau satuan pendidikan.

    Keteladan Orang Dewasa Di Sekolah Bagi Peserta Didik

    Di sekolah atau satuan pendidikan semua warga sekolah yang lebih tua seperti guru, petugas kebersihan, satpam, pustakawan, atau pegawai lainnya haruslah menunjukkan sikap, cara berpikir, cara bertindak dan wawasan yang dapat dijadikan contoh bagi semua peserta didik. Kita semua mengetahui bahwa teladan adalah jauh lebih utama untuk mengajarkan nilai-nilai dan karakter. Percuma saja dilakukan pembiasaan, pemberian pujian atau metode dan strategi lainnya, jika orang-orang dewasa yang ada di lingkungan sekolah tidak menunjukkan keteladanan akan karakter-karakter utama tersebut di atas.

    Pembiasaan yang Dilakukan Secara Rutin dan Berkala

    Metode atau strategi lain yang dapat digunakan sebagai penguatan pendidikan karakter di sekolah adalah melakukan pembiasaan. Anak-anak misalnya setiap pagi hari dibiasakan selama 15 menit untuk membaca buku non pelajaran untuk menumbuhkan karakter gemar membaca. Mereka juga dapat secara bergiliran dan berkala dibimbing melakukan ibadah tertentu. Misalnya bagi siswa muslim dilakukan pembiasaan shalat dzuhur berjamaan dan sebagainya.

    Pujian Bagi Siswa yang Menunjukkan Karakter Utama

    Ketika siswa menunjukkan telah mempunyai karakter utama yang 18 itu, guru atau pegawai di sekolah atau satuan pendidikan dapat memberikan pujian dan penghargaan. Salah satu bentuk penguatan yang efektif adalah pujian dan penghargaan. Pujian dan penghargaan diberikan ketika perilaku atau wawasan atau cara pikir yang menunjukkan adanya karakter yang diinginkan dimiliki oleh siswa, sehingga ia akan selalu menjaga dan berusaha mempertahankan nilai-nilai karakter bagus yang telah ada itu untuk lebih berkembang.

    Hukuman dalam Pendidikan Karakter

    Hukuman memang saat ini menimbulkan pro-kontra di masyarakat umum dan dunia pendidikan. Guru atau personil lain di sekolah harus berhati-hati dalam memberikan hukuman dengan tujuan memberikan penguatan karakter yang baik bagi siswa. Sekolah harus memberikan iklim rasa aman (baik dari kekerasan yang bersifat fisik ataupun psikis). Sekolah harus memberikan hukuman yang efektif tetapi bukan yang bersifat melanggar hak asasi siswa. Pemberian hukuman harus didasarkan pada peraturan sekolah yang telah disosialisasikan dan disetujui sebelumnya oleh pihak-pihak yang berkepentingan seperti orang tua, guru, siswa, kepala sekolah, dinas pendidikan, dan sebagainya.

    Ditinjau dari waktu pelaksanaannya metode-metode atau strategi penguatan pendidikan karakter dapat dibagi menjadi kegiatan yang bersifat terprogram dan kegiatan yang yang bersifat insidensial.


    Kegiatan Penumbuhan dan Penguatan Karakter yang Terprogram

    Kegiatan yang terprogram adalah kegiatan-kegiatan penumbuhan dan penguatan nilai karakter secara terencana dan memang diprogramkan oleh sekolah atau satuan pendidikan. Kegiatan-kegiatan seperti membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai seperti disebutkan di atas adalah salah satu contohnya. Kegiatan-kegiatan yang terprogram ini tentu saja memiliki prosedur pelaksanaan dan penjadwalan yang jelas. Ada target-target dan tujuan yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu dan jelas siapa yang bertanggung jawab.

    Kegiatan Penumbuhan dan Penguatan Karakter Insidensial

    Sementara kegiatan insidensial adalah kegiatan-kegiatan yang terjadi tanpa diprogramkan terlebih dahulu tetapi kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan ini dinilai bagus untuk dijadikan kesempatan untuk menyelipkan penumbuhan dan penguatan nilai karakter-karakter utama.

    Baca Juga:
    Apa yang Terjadi Pada Anak Kreatif Jika Penangannya Salah?
    Metode-Metode dalam Psikologi Pendidikan
  • Apa yang Terjadi pada Anak Kreatif yang Berada Di Tangan Guru yang Salah?

    Apa yang Terjadi pada Anak Kreatif yang Berada Di Tangan Guru yang Salah?


    Tidak semua anak terlahir dengan bakat kreatif. Hanya sebagian kecil dari anak-anak memiliki ini. Mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang luar biasa ketika mereka berada di tangan yang tepat. Mereka akan menjadi orang yang luar biasa sukses sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai bakat dan kreatif di bidang khusus saja seperti seni lukis, seni tari, seni peran, fisika, biologi, pemerhati sosial yang hebat, dan sebagainya. Ada ciri khas mengenai anak-anak kreatif berbakat ini misalnya mereka akan tampak begitu terobsesi dengan bidang khusus tersebut dan berani menanggung resiko demi mengembangkan dan menyalurkannya. Mereka bisa mengorbankan hal-hal atau bidang lainnya. Jika bakat dan kreativitas mereka tidak tersalurkan di sekolah, maka mereka cenderung menjadi tidak puas dengan keadaan kemudian melakukan perilaku-perilaku destruktif (bersifat merusak). Tetapi jika mereka dapat disalurkan dengan baik maka mereka akan menjadi berprestasi bagus di bidang tersebut. Selain itu anak-anak dengan bakat dan sifat kreatif yang khas ini biasanya senang bekerja sendiri dan sangat percaya diri.

    apa jadinya jika anak yang kreatif dan berbakat ditangai oleh guru yang salah (salah penanganan)? mereka bisa jadi nakal dan drop out
    anak kreatif dan berbakat yang berada di tangan guru yang salah


    Susahnya, jika kondisi dan situasi sekolah atau kelas tidak memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak-anak ini untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat serta kreativitasnya, maka masalah-masalah selain kenakalan (anggapan guru) juga akan bermunculan misalnya terjadi rendahnya prestasi padahal mereka mampu mencapai yang lebih atau dengan kata lain prestasi mereka lebih jauh rendah dibanding potensinya (underachiever). Juga bila sudah fatal, mereka dapat menjadi putus sekolah (drop out).

    Fakta Bahwa Anak Berbakat dan Kraetif Berpotensi Putus Sekolah

    Penelitian menunjukkan bahwa banyak anak-anak berbakat dan kreatif menjadi drop out (putus sekolah). Contoh yang terkenal misalnya Thomas Alva Edison yang karena ketertarikannya dalam bidang IPA membuatnya dianggap teman-teman dan guru (lingkungannya) sebagai anak yang tidak waras. Thomas Alva Edison bahkan menjadi drop out, padahal setelah ia mampu tegak berdiri dengan keyakinannya, berbagai penemuan berhasil didapatkannya seperti invensinya yang fenomenal tentang bola lampu (lampu pijar). Anak-anak berbakat dan kreatif memerlukan kejelian guru untuk melihat minat serta bakat yang dimiliki, menyalurkannya untuk memberikan tempat mengekspresikan diri dan menghargai segala bentuk kreativitas yang dilakukannya. Ini akan membuat anak merasa aman. Lingkungan sekolah yang penuh dengan bully (perundungan) juga seringkali menyebabkan anak-anak berbakat dan kreatif justru menjadi putus sekolah.

    Jika Anak Berbakat dan Kreatif Memperoleh Hasil Belajar Lebih Rendah dari Potensinya

    Sangat mungkin kita mendapati anak-anak berbakat dan kreatif menjadi underachiever (rendah hasil belajar dibanding potensi yang dimiliki) di sekolah-sekolah karena kurang tepatnya perlakuan guru, atau penggunaan metode mengajar yang tidak cocok dengan mereka. Anak-anak berbabat dan kreatif adalah anak-anak berkebutuhan khusus dan memerlukan penyaluran keistimewaan (kekhususan) ini. Penangan yang salah selanjutnya akan mengarah pada putus sekolah seperti disebutkan di atas. Penyebab rendahnya hasil belajar dibandingkan potensi yang dimiliki mereka ini diakibatkan menurunnya motivasi belajar, perubahan sikap dan perilaku karena lingkungan di sekolah tidak mendukung mereka untuk berkembang.

    Demikian uraian mengenai apa yang dapat terjadi pada anak-anak kreatif dan berbakat jika mereka berada di tangan guru yang salah, atau lingkungan sekolah yang kurang mendukung perkembangan mereka.

    Baca juga:
    Prinsip Belajar Sambil Bermain di TK Paud
    Metode-Metode dalam Psikologi Pendidikan
  • WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Karya Nyata Ragam Kerajinan

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.