ABOUT US

Our development agency is committed to providing you the best service.

OUR TEAM

The awesome people behind our brand ... and their life motto.

  • Neila Jovan

    Head Hunter

    I long for the raised voice, the howl of rage or love.

  • Mathew McNalis

    Marketing CEO

    Contented with little, yet wishing for much more.

  • Michael Duo

    Developer

    If anything is worth doing, it's worth overdoing.

OUR SKILLS

We pride ourselves with strong, flexible and top notch skills.

Marketing

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

Websites

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

PR

Development 90%
Design 80%
Marketing 70%

ACHIEVEMENTS

We help our clients integrate, analyze, and use their data to improve their business.

150

GREAT PROJECTS

300

HAPPY CLIENTS

650

COFFEES DRUNK

1568

FACEBOOK LIKES

STRATEGY & CREATIVITY

Phasellus iaculis dolor nec urna nullam. Vivamus mattis blandit porttitor nullam.

PORTFOLIO

We pride ourselves on bringing a fresh perspective and effective marketing to each project.

Tampilkan postingan dengan label LEARNING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEARNING. Tampilkan semua postingan
  • 10 PROBLEM UMUM BELAJAR ANAK

    Oleh:  Irfan Tamwifi

    Pembelajaran efektif merupakan dambaan setiap guru dan sekolah, tetapi mewujudkannya tidak selalu mudah dilakukan. Berbagai hambatan dihadapi guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Selain karena faktor instrumental, seperti kurikulum, guru dan infrastruktur, pembelajaran yang tidak dapat diabaikan adalah yang terletak pada diri peserta didik. Ibarat memasak suatu masakan atau memproduksi suatu produk, efektif tidaknya pencapaian hasil belajar juga ditentukan oleh bahan yang akan dimasak atau bahan baku produksinya. 
    Meskipun demikian, sebagian problem belajar yang terletak pada peserta didik pada dasarnya dapat diupayakan untuk dikembangkan, baik secara sendirian, bersama sekolah, wali murid maupun pihak lain seperti konselor. Bahkan tugas pertama guru pada dasarnya adalah mempersiapkan peserta didik agar siap mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memahami problem-problem umum yang biasa menghambat proses belajar anak. Di antara problem tersebut adalah sebagai berikut.
    1.   Minat Belajar
    Problem paling umum belajar anak terletak pada rendahnya minat belajar. Belajar sering kali dijalani peserta didik sebagai ritual, aktivitas rutin, dan bukan atas kehendak, keinginan atau inisiatifnya sendiri. Rendahnya minat belajar mengakibatkan proses belajar hanya akan menjadi kegiatan yang kurang bermakna, dan dijalani sambil lalu.
    2.   Kemauan Belajar
    Belajar merupakan proses yang membutuhkan usaha yang keras. Belajar merupakan proses di mana seseorang melakukan suatu aktivitas mental hingga memperoleh suatu pengetahuan atau keahlian tertentu. Proses yang membutuhkan usaha dengan sendirinya tidak selalu mudah untuk dijalani. Meski demikian, setiap peserta didik yang kondisi mentalnya normal pada dasarnya mampu mempelajari seluruh materi pembelajaran dengan maksimal. Yang membedakan hasil belajar peserta didik satu dari yang lain pada umumnya terletak pada perbedaan kemauan untuk menempuh proses belajar dengan segala beban dan kesulitan di dalamnya. 
    3.   Kemandirian Belajar
    Pada dasarnya setiap manusia dapat belajar sendiri dari berbagai sumber. Hanya saja, kebanyakan anak cenderung ketergantungan pada guru, sekolah atau orang tuanya. Pada banyak kasus, hambatan belajar terjadi akibat ketergantungan tersebut, padahal seharusnya mereka dapat melakukan proses itu secara mandiri. Banyak anak yang lebih suka disuapi dibanding mengeksplorasi sendiri beragam pengetahuan dan keahlian di sekelilingnya, meskipun internet, media massa dan buku-buku mudah diakses. Ketidakmandirian belajar sering kali menjadi penyebab tidak optimalnya proses belajar yang dilalui peserta didik. Padahal semakin mandiri seorang anak, maka semakin cepat mereka mencapai tujuan belajar.
    4.   Kesadaran dan Tanggung Jawab
    Seharusnya belajar merupakan kebutuhan setiap individu agar berkembang kemampuannya baik aspek kognitif maupun vokasionnalnya. Hanya saja, tidak semua anak memiliki kesiapan untuk belajar untuk dirinya sendiri. Banyak anak yang tidak merasa butuh untuk belajar. Ketergantungan anak pada orang lain, seperti keluarga dan lingkungan menjadikan belajar sering kali bukan bermakna sebagai kebutuhan diri sendiri, melainkan orang lain, terutama orang tua dan guru.
    5.   Mental dan Kepribadian
    Anak-anak dengan kondisi mental dan kepribadian tertentu cenderung tidak mudah untuk mengikuti proses pembelajaran secara efektif. Kondisi mental dan kepribadian tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Anak-anak dengan mentalitas manja, liar, tidak tenang, kesulitan memfokuskan perhatian membutuhkan tenaga ekstra untuk mengantarkan mereka mencapai hasil belajar yang memadai.
    6.   Kesiapan Mental
    Belajar membutuhkan fokus perhatian secara optimal. Pembelajaran efektif membutuhkan kesiapan mental anak untuk menghadapi dan berproses di kelas. Sering dijumpai anak-anak yang secara fisik di kelas, tetapi sangat boleh jadi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Kesiapan mental sangat penting diperhatikan dalam proses pembelajaran, agar hal-hal di luar tujuan pembelajaran dieliminasi sehingga anak lebih fokus pada proses belajar.
    7.   Kecerdasan
    Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran, terutama dalam bidang-bidang kognitif membutuhkan tingkat kecerdasan tertentu. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan rendah, apalagi sampai taraf disleksia misalnya, akan menyulitkan guru dalam mengantarkan mereka pada hasil belajar yang optimal. Kecerdasan seorang anak mempengaruhi kemampuan mereka dalam merekam informasi, memahami, apalagi mengimplementasikan konsep atau pengetahuan.
    8.  Gaya Belajar
    Pembelajaran ideal sering menuntut guru untuk menyesuaikan pendekatan pembelajarannya dengan gaya belajar peserta didik. Masalahnya, di kelas yang peserta didiknya memiliki gaya belajar beragam pada umumnya menyulitkan guru mencapai hasil pembelajaran secara optimal. Mengikuti gaya belajar sekelompok anak berpotensi merugikan anak yang lain, 
    9.  Lingkungan Belajar
    Aspek krusial yang sering kali diabaikan dalam pengelolaan belajar adalah budaya belajar di suatu sekolah. Budaya sekolah yang tidak terkonsep atau terlanjur diliputi oleh sikap, perilaku dan kebiasaan yang tidak kondusif cenderung sulit mengarahkan peserta didik mencapai kompetensi yang ditetapkan. 
    10.  Lingkungan Sosial
    Pembelajaran di sekolah pada dasarnya bukan proses yang berdiri sendiri. Secara tidak langsung, lingkungan di mana peserta didik tinggal dan bersosialisasi menentukan seberapa efektif mereka belajar di sekolah. Anak-anak yang bergaul dengan anak-anak yang malas belajar, akan cenderung demikian ketika di sekolah. Anak-anak di keluarga yang menekankan pentingnya belajar dan tidak juga menentukan bagaimana mereka belajar saat di sekolah. 
  • 3 TAHAP DASAR PEMBELAJARAN EFEKTIF DAN BERMAKNA

    Pengelolaan kegiatan pembelajaran pada dasarnya tak berbeda dari aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari, seperti makan, minum dan melakukan berbagai jenis pekerjaan. Bagi sebagian orang, kegiatan-kegiatan keseharian tersebut dilakukan tanpa dipikirkan, semua berlangsung begitu saja, tanpa fase-fase tertentu.
    Banyak orang melakukan kegiatan seperti makan secara tergesa-gesa tanpa lebih dahulu melakukan langkah-langkah persiapan seperti do’a dan cuci tangan, atau menyiapkan kain lap. Ketika ada yang kurang, dia harus bolak-balik ke dapur. Meski pada akhirnya perut kenyang, tetapi banyak makanan yang tercecer di mana-mana. Apalagi bila setelah selesai makan langsung melakukan aktivitas lain, tanpa  lebih dulu merapikan peralatan dan membersihkan sisa makanan.
    Belajarpun tak jarang berlangsung demikian. Tak jarang guru masuk kelas langsung mengajar, tanpa terlebih dahulu melakukan langkah-langkah persiapan. Guru juga tak melakukan apa-apa saat bel tanda akhir jam pelajaran berbunyi, dan tak hanya membiarkan siswa langsung keluar keluar kelas begitu saja.
    Dapat dipastikan pembelajaran seperti ini tidak efektif, sebab selama pelajaran tak semua siswa memperhatikan. Guru bahkan harus berteriak-teriak untuk menenangkan siswanya. Sangat boleh jadi kebanyakan siswa tak tahu apa yang baru saja diajarkan oleh guru karena fokus perhatian mereka tak sepenuhnya tertuju pada kegiatan pembelajaran.
    Agar pembelajaran berlangsung efektif dan bermakna ada beberapa langkah dasar yang harus dilakukan. Langkah-langkah terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
    1.   Kegiatan Pendahuluan
    Kegiatan ini kadang juga disebut kegiatan pembuka atau pijakan awal. Setiap memulai kegiatan pembelajaran atau kegiatan apapun, seharusnya guru melakukan beberapa langkah strategis yang bertujuan mengkondisikan mental siswa agar siap untuk belajar.
    Kegiatan pendahuluan adalah fase mengalihkan fokus perhatian siswa dari berbagai aktivitas sebelum pelajaran dimulai, apalagi yang berpotensi mengganggu kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru harus mengantisipasi ketika anak baru saja bermain, bercanda atau bahkan masih makan jajanan, agar tidak mengganggu konsentrasi dan perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran.
    Kegiatan pendahuluan juga ditujukan untuk mengarahkan mental anak pada suasana belajar dan materi yang diajarkan. Pelajaran seyogyanya tidak dimulai ketika anak masih terbawa suasana bermain atau hal-hal lain yang mereka lakukan sebelum jam pelajaran dimulai, maupun perhatian anak belum benar-benar fokus pada kegiatan pembelajaran.
    2.   Kegiatan Inti
    Ini merupakan kegiatan pokok dalam proses pembelajaran, yaitu usaha membuat peserta didik menguasai materi pelajaran. Setelah siswa benar-benar siap belajar, guru dapat memulai proses internalisasi materi pelajaran sesuai dengan pendekatan, strategi, metode, media dan berbagai instrumen yang telah dipersiapkan.
    Pengelolaan kegiatan inti harus disesuaikan dengan materi, bidang cakupan dan ketersediaan sarana dan prasarana. Selama kegiatan inti, perhatian dan ektivitas siswa harus dikondisikan agar sepenuhnya terfokus pada proses pembelajaran, baik dalam hal memilih metode atau media yang tepat maupun pemberian selingan (ice breaking) untuk menyegarkan suasana.
    3.  Kegiatan Penutup
    Kegiatan ini disebut juga pijakan akhir atau kegiatan akhir. Dalam kegiatan ini guru harus memastikan seluruh siswa berhasil menguasai materi pelajaran, baik melalui kuis, tanya-jawab, refleksi atau evaluasi.
    Berdasarkan hasil kegiatan akhir guru dapat mengetahui apakah proses pembelajarannya saat itu berhasil mencapai target atau tidak. Dengan begitu, guru dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaikinya, atau memberikan threatment tambahan terutama bagi siswa yang belum berhasil. Siswa sendiri diupayakan memahami apa yang baru saja mereka pelajari, dan menyadari sejauh mana pemahaman mereka, serta kekurangan mereka dalam menguasai materi tersebut.
    Dengan begitu, proses pembelajaran akan berlangsung efektif dan bermakna baik bagi siswa maupun guru. Intinya, sebelum dan setelah melakukan kegiatan siswa dan guru harus tahu apa yang mereka dapat dan hasilkan dari proses pembelajaran yang baru saja mereka lakukan.
    Tiga tahap ini berlaku bukan hanya dalam pembelajaran di kelas, melainkan juga seluruh kegiatan sekolah baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Kegiatan upacara, perayaann hari besar, bahkan lomba-lomba perlu dilakukan dengan memperhatikan ketiga tahap ini agar seluruh kegiatan berlangsung efektif dan bermakna bagi siswa. 
    Bahkan saat rapat, breafing atau persiapan dan penutupan kegiatan sekolah, guru perlu membiasakan menggunakan ketiga langkah tersebut agar setiap aktivitas tidak hanya menjadi ritual, rutinitas tanpa makna. Pelaksanaan ketiga tahap tersebut akan memungkinkan aktivitas apapun berlangsung efektif dan bermakna bagi seluruh peserta.
  • KEAHLIAN POKOK GURU

    Sebagaimana halnya profesi-profesi lain, profesi guru juga menuntut seperangkat ketrampilan yang perlu dikuasai agar mampu menjalankan perannya secara optimal. Secara normatif pemerintah memetakan ketrampilan guru ke dalam 4 ranah kompetensi, yaitu kompetensi kepribadian, profesional, pedagogik dan kompetensi sosial, tetapi sebenarnya keempat kompetensi tersebut dapat disederhanakan ke dalam dua ranah dasar, yaitu mentalitas dan ketrampilan keguruan.

    1.   Mentalitas Keguruan
    Menjadi guru merupakan sebuah pilihan, terutama bagi sebagian orang yang sejak awal memang berkarakter guru. Guru idealnya merupakan panggilan jiwa, orang yang memang memiliki mental keguruan. Mereka adalah orang yang memiliki bakat dan kecenderungan bawaan berupa senang menyampaikan ide, mengubah dan meningkatkan potensi diri orang lain dengan cara mengajar.
    Berbeda dari profesi-profesi lain, guru merupakan profesi yang bersifat profetik, berjiwa pendidik. Dengan demikian, guru yang baik menuntut beberapa prasyarat, yaitu:

    • Orang baik, karena tugas guru adalah membaikkan anak didiknya.  
    • Menempatkan diri sebagai orang yang layak dijadikan panutan, karena harus menjadi contoh pertama bagi anak didiknya.
    • Menjaga muru’ah, yaitu menjaga diri dari sikap, perilaku dan pergaulan yang tidak pantas agar guru dihormati oleh orang lain, dan terutama siswanya. 
    • Orang yang peduli, yaitu memiliki kepekaan terhadap keadaan yang perlu diperbaiki, dan dan tergerak membantu orang lain.
    • Orang ikhlas dan berjiwa perjuangan, yaitu bekerja secara tulus. sebab yang dihadapi guru adalah manusia, sebab suasana hati dan sikap mental guru sering kali jauh lebih berpengaruh dibanding kata-katanya.
    • Orang yang komunikatif dan dapat bekerja sama dengan semua orang. Selain berhadapan dengan murid, sering kali guru harus berhadapan dengan wali murid dan masyarakat.
    2.  Ketrampilan Keguruan
    Berbeda dari ketrampilan sopir, tukang bangunan, montir atau profesi lain yang bersifat teknis-mekanis, ketrampilan keguruan bersifat mental, deep soft skill. Ketrampilan guru mirip ketrampilan yang harus dimiliki oleh seniman, yaitu mengandalkan kecerdasan pikir dan kepekaan perasaan sekaligus.
    Ketrampilan mengajar pada awalnya merupakan seni, sebuah kecakapan yang secara mental maupun vokasional melekat pada diri seseorang. Sekalipun tidak semua orang ingin menjadi guru, tetapi ada sebagian orang yang karena alasan tertentu memilih menjadi guru, baik karena tanggung jawab sosial, dihadapkan pada pilihan pekerjaan, atau karena kebutuhan sendiri.
    Kian rumitnya tuntutan pendidikan modern menjadikan ketrampilan guru tidak cukup hanya sebatas ketrampilan yang bersifat seni, melainkan harus dilengkapi dengan ketrampilan rancang bangun (enginering), evaluasi dan komunikasi. Hal ini dikarenakan beban pembelajaran dan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan kian meningkat, tidak lagi sebatas tugas sosial yang bersifat suka-rela. Peningkatan kebutuhan pendidikan sebagai investasi masa depan menjadikan setiap proses pendidikan harus dapat memberikan nilai tambah yang jelas.

    • Ketrampilan merancang kegiatan pembelajaran, yaitu mempersiapkan materi, langkah-langkah dan berbagai instrumen yang diperlukan dalam pembelajaran.
    • Ketrampilan mengendalikan kelas, yaitu membuat diri dan instruksinya dipatuhi oleh siswa.
    • Ketrampilan melaksanakan kegiatan pembelajaran, yaitu menyampaikan materi pelajaran yang mudah diserap oleh siswa.
    • Ketrampilan mengevaluasi kegiatan pembelajaraan, yaitu kemampuan mengukur keberhasilan atau kegagalan pembelajaran, serta melakukan usaha perbaikan.
    • Ketrampilan mengkomunikasikan hasil pembelajaran, yaitu kemampuan mempertanggungjawabkan kegiatan pembelajarannya di hadapan pimpinan dan wali murid.


  • 5 PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF

    Menyelenggarakan pembelajaran efektif merupakan impian setiap guru dan sekolah. Pembelajaran efektif adalah kegiatan pembelajaran yang berhasil mengantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Secara managerial-administratif dan berlaku secara kedinnasan, ukuran keberhasilan tersebut adalah pencapaian kriteria ketuntasan minimal oleh setidaknyaa 85% siswa.
    Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun. Hal ini dikarenakan efektivitas pembelajaran merupakan proses yang kompleks, baik dipengaruhi oleh kondisi siswa, lingkungan maupun kompetensi pengajarnya.

    Di antara sekian faktor penentu efektivitas pembelajaran, kemampuan pengajar merupakan faktor paling dominan. Pada sebagian orang pembelajaran efektif dipengaruhi oleh ketrampilan bawaan dalam mengajar. Sekalipun demikian, pembelajaraan efektif merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari, setidaknya dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut.
    1.  Pengendalian Kelas
    Pembelajaran efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk mengendalikan kelas, yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian kelas merupakan kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun pengendalian kelas yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal keberhasilan pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas merupakan upaya membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan. 
    2.  Membangkitkan minat eksplorasi.
    Setelah siswa secara mental siap belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-siswinya betapa materi pembelajaran yang tengah mereka pelajari penting dan mudah dipelajari, sehingga menggugah minat mereka untuk mempelajarinya. Ibarat makan, setelah anak mandi, berganti pakaian dan duduk di meja makan, sajian yang akan mereka santap memang membangkitkan selera. Anak tahu makanan itu enak, bermanfaat dan tak sabar untuk segera melahapnya.
    3.  Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
    Seenak apapun makanan, pasti ada cara paling tepat untuk menikmatinya. Kesalahan cara menikmati tak jarang membuat anak kehilangan selera, misalnya makan satu ayam tetapi dari sambalnya lebih dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan hakekat makanan yang akan mereka santap, serta dari bagian mana atau dengan cara seperti apa menikmatinya. 
    Tugas inti seorang guru secara profesional adalah memperkenalkan konsep dasar dari materi pelajaran yang tengah dipelajari, dimulai dari sisi termudah dan paling menarik. Guru yang benar-benar menguasai materi pelajaran pasti menemukan banyak cara untuk membuat anak didiknya memahami materi pelajaran, dan bila perlu membuat kiasan, terutama untuk materi pelajaran yang bersifat abstrak,  
    4.  Latihan
    Pemahaman dalam sekali proses akan sangat mudah menguap oleh berbagai aktivitas lain siswa. Memberikan latihan demi latihan baik berupa latihan di kelas, PR atau pemberian tugas-tugas tertentu merupakan wahana untuk memperkuat penguasaan materi yang telah dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak diberikan agar siswa berlatih secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka mungkin saja mempelajarinya.
    Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan materi pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas mungkin, sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas dan mendalam.  
    5.  Kendali Keberhasilan
    Tugas guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu guru harus memastikan seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap penguasaan materi pelajaran oleh siswa harus dilakukan baik selama proses pembelajaran, latihan maupun penugasan.
    Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan materi pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak lainnya. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan penjajagan adalah jawaban siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya. Meminta siswa yang dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi indikator awal keberhasilan pembelajaran, sebab secara otomatis dapat diperkirakan penguasaan materi oleh siswa yang daya tangkapnya kuat.  
  • BAHASA GURU DALAM PENGUASAAN KELAS

    Penguasaan kelas yang baik merupakan kebutuhan pokok dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan penguasaan kelas merupakan modal dasar dalam mewujudkan pembelajaran efektif. Guru juga akan lebih mudah melaksanakan tugasnya bila berhasil menguasai kelas dengan baik.
    Kunci utama penguasaan kelas yang baik adalah komunikasi efektif, yaitu kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa melalui sikap dan ucapan yang mampu mensugesti siswa dan membuatnya bersikap dan melakukan sesuatu sesuai instruksi guru. Kemampuan komunikasi efektif bukan hanya berarti kepiawaian merangkai kata-kata atau ucapan (bahasa verbal), melainkan juga mencakup sikap dan tindak-tanduk guru (bahasa non-verbal).
    Oleh karena itu penguasaan kelas yang baik membutuhkan kemampuan berkomunikasi efektif, baik berupa komunikasi verbal maupun non-verbal. Komunikasi verbal berarti rangkaian kata-kata yang secara efektif dapat dipahami dan diikuti oleh siswa, sedangkan komunikasi non-verbal merupakan serangkaian sikap yang membuat orang lain percaya, menghormati dan bersedia mendengar dan mengikuti.
    SIKAP GURU

    Penerapan komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas dapat dilakukan dengan mengedepankan sikap atau bahasa non-verbal berikut.
    1.    Wibawa
    Kewibawaan merupakan sifat pembawaan pada sebagian orang, tetapi dapat berkembang seiring pengalaman, kematangan mental dan kesediaan untuk belajar. Kewibawaan dapat dibangun dengan mengembangkan sikap percaya diri, penggunaan suara bertekanan dan pandangan mata yang berwibawa.
    a.    Percaya diri
    Kepercayaan diri membuat seseorang mampu memancarkan kekuatan mental sehingga dapat mempengaruhi orang lain. Kepercayaan diri terbangun oleh kekuatan pikiran berupa keyakinan pada diri sendiri, pada kemampuan yang dimiliki, serta kemampuan untuk melakukan sesuatu.
    Guru dapat menguasai kelas pertama-tama dengan membangun kepercayaan diri yang baik. Kepercayaan diri tersebut dibangun dengan cara:
    1)    Menempatkan diri sebagai guru yang harus mampu mengatasi siswa,
    2)    Meyakinkan diri sendiri dan menghilangkan keraguan bahwa dia mampu mengatasi keadaan yang dihadapi, mampu mengendalikan kelasnya dengan baik.
    b.    Suara bertekanan
    Setiap orang memiliki gaya berbeda-beda dalam bersuara. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar, karena suara sekaligus menjadi pembeda orang satu dari yang lain. Ada orang yang bersuara tenor yang menggema atau sopran yang terdengar melengking. Perbedaan tersebut tidak menjadikan suara satu lebih efektif dibanding yang lain, sebab efektivitas komuninasi dengan suara tipe apapun ditentukan oleh isi pembicaraan dan kadar tekanannya.
    Lingkungan keluarga merupakan faktor umum yang menentukan gaya bicara seseorang. Orang dari keluarga yang kurang percaya diri biasanya berbicara dengan tekanan suara ringan, datar atau bahkan lemah. Sebaliknya, orang dari keluarga yang terlatih untuk lebih percaya diri akan berbicara dengan tekanan suara lebih berat.
    Status guru seharusnya mengubah nada suara seseorang menjadi suara bertekanan, yaitu suara yang memiliki kesan kuat, lebih berat dan tegas sehingga memiliki nilai sugestif atau harus didengar. Suara bertekanan tidak selalu berarti keras, apalagi kasar, tetapi suara yang mencerminkan kehendak yang kuat dari seseorang.  
    c.    Pandangan mata
    Banyak orang meyakini mata menunjukkan keadaan jiwa seseorang. Sedih, senang, bahagia, marah, suka, tidak suka, atau amarah selalu tercermin jelas pada mata. Demikian halnya dengan kepercayaan diri, ketegasan atau kelemahan jiwa seseorang juga tergambar pada bagaimana pandangan matanya.Mata juga merupakan alat komunikasi non verbal yang memungkinkan seseorang mengirimkan pesan tertentu pada orang lain.
    Sikap guru dalam penguasaan kelas perlu ditunjang dengan ekspresi pandangan mata yang mencerminkan percaya diri dan terfokus pada seluruh siswa. Caranya, saat berbicara di depan kelas, guru melakukan kontak mata, yaitu mengarahkan focus padangan matanya pada mata siswa satu-persatu. Guru berkomunikasi tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan matanya.
    Sekalipun tekniknya sederhana, tetapi ini bukan hal mudah untuk dilakukan dilakukan. Nada bicara mungkin bisa diubah keras, tetapi pandangan mata tidak mudah diubah kecuali seiring kondisi mental guru.
    2.    Simpatik
    Simpati merupakan sikap yang menunjukkan adanya sambung rasa, ikatan batin, dan kepedulian pada orang lain. Sikap simpati ditandai dengan adanya empati, perhatian penuh, kepedulian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Setiap anak pada dasarnya suka diperhatikan, karena perhatian merupakan satu bentuk penghargaan. Penguasaan kelas yang baik menuntut guru mampu bersikap yang membuat siswa berharga dan diperhatikan.
    Sikap simpati dalam penguasaan kelas ditunjukkan dengan menyebut nama siswa dengan penuh respek, mengarahkan fokus perhatian pada siswa, dan penggunaan ungkapan-ungkapan yang bernada positif dan menghormati. Ungkapan-ungkapan bernada keras dan intimidasi sama sekali bertolakbelakang dengan sikap simpatik.  
    3.    Sugestif
    Komunikasi dalam penguasaan kelas ditujukan dalam rangka mempengaruhi peserta didik. Bentuk komunikasi efektif yang dibutuhkan dalam hal ini adalah komunikasi yang sugestif, melalui ungkapan dan nada bicara yang mampu mempengaruhi siswa secara positif.
    Ungkapan-ungkapan sugestif dapat dilakukan dalam bentuk sikap yang meyakinkan dan memberikan daya kejut yang baik. Di antara bentuknya adalah penggunaan yel-yel positif secara berulang-ulang, penekanan dan pengulangan kalimat dengan intonasi menarik.
    Ungkapan dengan nada sugestif akan jauh lebih efektif bialamana dinyatakan dengan penuh percaya diri. Orang lain akan meyakini ucapan seseorang bilamana berbicara dinyatakan dengan penuh yakin dan percaya.
    BAHASA GURU
    Banyak guru mengumbar kata-kata untuk membuat anak didik mengikuti instruksi. Bahkan tidak jarang guru mengomel panjang lebar ketika instruksinya tidak didengar dan dipatuhi oleh siswa-siswanya. Cara itu tentu saja tidak efektif, di samping membuang energi. Siswa bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dikehendaki oleh gurunya.
    Oleh karena itu, komunikasi efektif dalam rangka penguasaan kelas perlu dilengkapi dengan menggunakan pilihan kata atau bahasa verbal yang efektif. Pada prinsipnya bahasa yang perlu dipakai oleh guru dalam pengendalian kelas mirip dengan militer, yaitu singkat, jelas, dan instruktif.
    1.    Singkat dan jelas
    Sebaiknya guru menggunakan ungkapan-ungkapan pendek yang mudah dimengerti oleh siswa dan mudah dilaksanakan. Semakin pendek dan jelas ungkapan yang digunakan akan semakin mudah siswa melaksanakan. Semakin panjang ungkapan digunakan, maka akan semakin kabur pesan yang diperoleh siswa.
    2.    Instruktif
    Banyak guru yang masih suka menggunakan bahasa himbauan dalam pengelolaan kelas. Akibatnya, banyak anak didik yang tidak memperhatikan. Pelajaran bahasa Indonesia yang menekankan bahasa efektif sering kali terlupakan saat guru melaksanakan pembelajaran, padahal itulah salah satu gunanya pelajaran ini diberikan di sekolah.
    Bahasa dalam penguasaan kelas harus bersifat instruktif. Bahasa instruktif adalah ungkapan atau pernyataan sederhana bernada perintah yang tegas, misalnya: “Semua berdiri dalam hitungan lima! Satu, dua, ….” Bilamana siswa belum memperhatikan, guru mengulanginya dengan perintah yang sama, yel, energizer atau instruksi apapun yang membuat siswa berbuat sesuai instruksi.    

  • POLA-POLA PENGUASAAN KELAS


    Kemampuan guru menguasai kelas berbeda-beda. Ada guru yang mampu mengendalikan siswa dalam kelompok kecil dan besar sekaligus. Ada yang hanya mampu mengendalikan kelompok kecil saja, tetapi tidak jarang yang sudah kesulitan mengendalikan kelompok kecil sekalipun. Hal ini dikarenakan ketrampilan ini lebih sering berkembang berdasarkan pembawaan kepribadian dan kebiasaan guru dalam kehidupan sehari-hari.
    Pembawaan kepribadian dan kebiasaan tersebut berupa kewibawaan yang bersifat bawaan, tensi emosional dan kemampuan berkomunikasi. Karena itu, pola-pola penguasaan kelas dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu berdasarkan kewibawaan, tensi emosional dan komunikasi efektif.
    1.   Mengandalkan Kewibawaan
    Guru yang berpembawaan wibawa pada umumnya lebih mudah mengendalikan kelas, karena kehadirannya di tengah siswa sudah menjadi pusat perhatian, didengar, diperhatikan dan diikuti instruksinya. Guru yang kurang berwibawa memerlukan usaha ekstra agar siswa memberikan respon sebagaimana guru yang kurang berwibawa. Guru demikian membutuhkan waktu untuk belajar agar dihargai, diperhatikan dan diikuti instruksinya oleh siswa.
    2.   Mengandalkan Tensi Emosional
    Pola ini banyak dilakukan oleh guru yang belum profesional dan paling umum menjadi andalan guru dalam menguasai kelas. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan munculnya ucapan, sikap dan kadang tindakan kekerasan, berupa bentakan, ancaman (intimidasi), ungkapan bernada tinggi, hardikan, dan sikap-sikap serta tindakan bernada emosional lainnya.
    Profesionalitas guru dapat dilihat dari seberapa sering guru menggunakan kekerasan dalam mengendalikan kelas. Guru professional dengan sendirinya akan menghindari penggunaan kekerasan baik yang bersifat verbal maupun fisik. Sebaliknya, penggunaan kekerasan apapun bentuknya menunjukkan kemampuan yang belum memadai dalam berkomunikasi dan mengatasi persoalan.
    3.   Mengandalkan Komunikasi Efektif
    Pola ini merupakan salah satu indikator guru profesional. Penguasaan kelas pola ini ditandai dengan mengemukanya ungkapan-ungkapan simpatik, sugestif dan menarik perhatian yang membuat siswa mendengar, memperhatikan dan mengikuti instruksi guru.
    Bagi sebagian besar orang, menerapkan komunikasi efektif bukan hal mudah, terutama karena faktor kebiasaan dan pengalaman belajar yang melekat di bawah sadarnya. Kemampuan komunikasi yang efektif sebagai wahana penguasaan kelas dapat dipelajari bila guru bersedia mengubah pola pikir, berlatih dan membiasakan diri dengan pendekatan baru dalam pengendalian kelas.  
  • INDIKATOR PENGUASAAN KELAS

    Penguasaan kelas adalah kemampuan guru untuk membuat sekelompok siswa mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksinya. Ketrampilan ini memungkinkan guru mengarahkan, menggerakkan dan mengontrol siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pengertian kelas dalam hal ini tidak selalu berkonotasi ruang, tetapi sekelompok siswa dalam suatu kegiatan baik di dalam ruang maupun luar ruang kelas.
    Pembelajaran hanya akan berlangsung efektif bilamana guru menguasai ketrampilan penguasaan kelas. Penguasaan kelas yang baik memungkinkan guru menyampaikan materi atau membawa siswa mengikuti kegiatan pembelajaran atau kegiatan sekolah lainnya dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.
    Program studi keguruan pada umumnya tidak menjadikan penguasaan kelas sebagai disiplin ilmu atau bidang studi tersendiri. Padahal penguasaan kelas merupakan ketrampilan pembelajaran paling dasar dan pertama-tama perlu dikuasai oleh setiap pengajar. Pendidikan keguruan pada umumnya hanya mengajarkan didaktik-metodik yang bersifat teknis dan prosedural, berupa pendekatan, strategi dan metode pembelajaran.
    Ketrampilan penguasaan kelas dipandang melekat pada bidang-bidang studi tersebut, meski faktanya tidak selalu demikian. Pendekatan, strategi dan metode pembelajaran baru dapat diterapkan dalam situasi kelas yang terkendali, dikuasai oleh guru. Penerapan pendekatan, metode dan strategi pembelajaran justeru sering kali mengalami hambatan karena kegagalan guru dalam menguasai kelas.
    Penguasaan kelas oleh guru dapat dicermati berdasarkan beberapa indikator. Di antara tanda-tanda penguasaan kelas yang baik oleh guru adalah:
    1.    Pembelajaran berlangsung efektif.
    Ini merupakan pertanda utama penguasaan kelas. Keberhasilan pembelajaran dengan sendirinya menunjukkan penguasaan kelas yang baik di samping penguasaan bahan dan pendekatan pembelajaran. Guru tidak mungkin mampu membuat siswa berhasil dalam pembelajaran bilamana kurang menguasai kelas.
    2.    Siswa aktif.
    Penguasaan kelas juga ditandai dengan sikap siswa terhadap kegiatan atau pembelajaran yang tengah dikendalikan oleh guru. Penguasaan kelas yang baik memungkinkan guru membawa siswa pada kondisi yang diinginkan.
    3.    Guru dihormati, menjadi panutan atau idola siswa.
    Guru yang menguasai kelas dengan baik berarti mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang dihormati dan menjadi panutan siswa. Kemampuan mengendalikan kelas membuat guru sebagai orang terpercaya dan dihormati oleh siswanya. Kesediaan siswa mendengar, memperhatikan dan mengikuti instruksi guru bukan karena rasa takut.
    Sebaliknya, kurangnya penguasaan kelas oleh guru dapat dicermati berdasarkan beberapa indicator, di antaranya:
    1.    Pembelajaran kurang efektif.
    Ini merupakan salah satu pertanda awal penguasaan kelas yang rendah oleh guru. Efektivitas pembelajaran juga ditentukan oleh penguasaan materi dan pendekatan pembelajaran. Guru mungkin saja menguasai kelas dengan baik, tetapi tidak mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik.
    2.    Ungkapan atau alasan apologetik.
    Tanda paling jelas dari rendahnya penguasaan kelas adalah munculnya ungkapan-ungkapan apologetik, yaitu ungkapan yang bernada “menyalahkan” siswa. Ketika pembelajaran kurang berhasil, banyak guru yang bilang, “Ini karena anak-anak kurang memperhatikan, tidak mau belajar, dan sebagainya”
    Guru yang demikian menujukkan bahwa dia tidak menyadari bahwa kemampuannya dalam penguasaan kelas masih rendah. Guru yang memahami hakekat belajar tidak akan mengatakan hal-hal semacam itu, sebab guru merupakan kunci penentu keberhasilan pembelajaran. Profesionalitas guru ditandai dengan kemampuannya mengatasi keadaan siswa.
    3.    Guru ditakuti atau tidak dihargai oleh siswa.
    Penguasaan kelas yang rendah ditandai dengan sikap siswa yang kurang memperhatikan instruksi guru, bahkan pada tingkat tertentu bersikap meremehkan. Siswa hanya mengikuti guru karena takut atau keterpaksaan. Pertanda paling jelasnya adalah siswa hanya diam bila guru sudah bernada keras. Ketundukan siswa yang terjadi karena takut hanya terjadi pada saat siswa merasa tertekan dan terancam oleh sikap dan ucapan guru.
    Indikatornya sederhana, yaitu bila siswa baru diam setelah guru membentak atau bersuara tinggi. Itu merupakan pertanda bahwa siswa hanya takut, dan bukan hormat pada guru. Kesediaan siswa diam hanyalah kesadaran sementara, karena di bawah tekanan.
    Oleh karena itu, selain berbekal ijasah dan kemampuan akademik seyogyanya setiap guru menyadari seberapa kemampuannya dalam menguasai kelas, bersedia dan membuka diri untuk selalu belajar meningkatkan kemampuannya.

  • RAMBU-RAMBU PENERAPAN PAKEM


    Secara umum, terdapat rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam penerapan PAKEM. Rambu-rambu tersebut dapat dipilahkan ke dalam 2 (dua) konteks, yaitu konteks pembelajaran dan konteks penunjang pembelajaran. Rambu dalam konteks pembelajaran adalah hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
    Konteks penunjang adalah hal-hal pendukung yang perlu dilakukan oleh guru guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Aspek ini perlu dipersiapkan dan dilakukan guru di luar proses pembelajaran.
    Aspek Pembelajaran
    1.       Membangun suasana belajar yang kondusif.
    a.       Guru mengupayakan suasana kelas siap untuk diberikan pembelajaran.
    b.      Mengantisipasi hal-hal yang berpotensi mengganggu pembelajaran.
    c.       Siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan perasaan aman,  nyaman, tanpa rasa takut/ kuatir.
    d.      Guru tak henti menanamkan keberanian untuk mengemukakan pendapat.
    2.       Melibatkan semua siswa.
    a.       Perhatian guru pada seluruh siswa.
    b.      Guru memberikan perhatian lebih pada anak yang kurang atau belum tertib.
    c.       Kegiatan pembelajaran, seperti tanya-jawab, diskusi, kerja kelompok dan energizer membuat semua anak terlibat.
    d.      Menghindari 1 (satu) anak memborong beberapa respon atau jawaban.
    3.       Mengajukan pertanyaan yang mengundang banyak jawaban.
    a.       Membuat pertanyaan yang memungkinkan munculnya banyak jawaban.
    b.      Menghindari pertanyaan dengan jawaban tunggal kecuali untuk kuiz.
    4.       Merespon dan menghargai semua jawaban.
    a.       Guru selalu merespon dan menghargai semua jawaban, misalnya “bagus”, “oke”.
    b.      Membiasakan menjawab bergantian, dan menghindari siswa berebut menjawab atau bertanya.
    5.       Memberi tugas yang jelas.
    a.       Memberikan tugas yang mudah dipahami siswa.
    b.      Melengkapi dengan instruksi atau petunjuk tertulis bilamana perlu.
    6.       Memanfaatkan energizer, ice breaking dan humor.
    a.       Guru memanfaatkan dan yel-yel pendek sebagai jeda pembelajaran.
    b.      Guru memberikan ice breaking atau yesl pendek paling lama setiap 20 menit sekali.
    c.       Menyelingi humor yang berkaitan dengan materi pelajaran kalau guru bisa.
    7.       Memperhatikan waktu.
    a.       Memberitahu siswa alokasi atau batasan waktu penyelesaian setiap tugas.
    b.      Mengelola setiap kegiatan sesuai waktu.
    c.       Tidak menunggu siswa benar-benar selesai.
    d.      Menghindari bertanya “Sudah selesai?”, tetapi mengatakan “waktu tinggal 1 menit lagi”
    8.       Memanfaatkan sumber dan media pembelajaran yang tepat.
    a.       Menguasai materi secara optimal.
    b.      Mampu memilih sumber dan media yang sesuai dengan materi.
    9.       Mendampingi siswa menyelesaikan tugas.
    a.       Memberi tugas dan mendampinginya, bukan untuk ditinggal keluar.
    b.      Memantau dan membantu setiap anak atau kelompok dalam mengerjakan tugas.
    c.       Mengarahkan hasil kerja siswa setiap saat menemukan hal-hal yang perlu dibenahi.
    10.   Mengakomodasi gaya belajar siswa.
    a.       Member variasi kegiatan pembelajaran dengan berbagai metode.
    b.      Mengupayakan di setiap kegiatan pembelajaran siswa tidak hanya duduk menghadap buku, tetapi juga ada saat berdiri, berjalan atau bergerak fisiknya.
    Konteks Penunjang
    1.       Membangun lingkungan belajar yang kreatif.
    a.       Menyediakan banyak sumber informasi.
    b.      Mengelola lingkungan agar sarat informasi.
    c.       Menghindari sumber pengetahuan hanya dari buku.
    2.       Memberi kesempatan siswa berkarya dan menuangkan kreativitas.
    a.       Menyediakan sarana untuk berkarya.
    b.      Menyediakan wahana untuk memamerkan karya siswa.
    c.       Mengadakan momen menghargai karya.
    3.       Mengalolasikan waktu dan media untuk menghargai dan memajangkan hasil karya siswa.
    a.       Mengadakan momen untuk memajangkan karya.
    b.      Mengadakan kegiatan apresiasi, merespon atau menghargai karya oleh siswa dan guru.
    Catatan
    Bila melihat item-item yang harus dilakukan dalam rangkan penerapan PAKEM, maka akan timbul kesan rumit dan ribet. Karena itu, perlu ditekankan bahwa pada dasarnya PAKEM merupakan sebuah bentuk penerapan paradigma pembelajaran. PAKEM perlu dijadikan kebiasaan agar item-item tersebut tidak terasa berat dan rumit.
    Ibaratnya, PAKEM adalah tugas seorang calon ibu yang menunggu kelahiran anaknya. Bila tugas-tugas yang harus dikerjakan sesudah anaknya lahir ditulis satu-persatu, dapat dipastikan akan menjadi berlembar-lembar halaman.
    Ketika seseorang benar-benar siap menjadi seorang ibu, tugas-tugas tersebut akan berjalan begitu saja. Apalagi bila sang ibu menyambut kehadiran bayi itu dengan senang hati dan penuh harapan. 
  • PRASYARAT PENERAPAN PAKEM


    Penerapan PAKEM membutuhkan beberapa prasyarat. Prasyarat utama pakem terletak pada guru. Selain guru, PAKEM membutuhkan dukungan managemen sekolah, kesiapan kurikulum serta sarana dan prasarana, sebab berbagai kelengkapan dan usaha menciptakan suasana belajar yang aktif, efektif dan menyenangkan terletak pada guru. Di antara prasyarat yang melekat pada guru adalah:
    1.      Guru berkepribadian menarik dan berwibawa.
    Penerapan PAKEM tidak efektif bilamana guru bukan pribadi yang menarik, yaitu seseorang yang mampu menempatkan diri sebagai sosok yang disukai, bahkan dikagumi oleh siswa. Pada tingkat lebih tinggi, guru yang menarik adalah guru yang mampu menjadikan dirinya sebagai idola siswa. Guru yang berkepribadian menarik kadang bahkan jauh lebih dipercaya oleh siswa dibanding orang tuanya sendiri. Di antara cirri guru tipe ini adalah:
    Kepribadian berwibawa adalah kekuatan mental seseorang untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain. Guru yang berwibawa memiliki kekuatan mental yang mampu membuat siswa menghormatinya, dan mengikuti setiap instruksinya.
    Berpenampilan bersih dan rapi, bersikap tegas, tetapi bersahabat,
    Di antara tanda-tanda guru berkepribadian menarik dan berwibawa adalah:
    a.      Berpakaian rapi
    b.      Percaya diri, tegas, bukan keras atau kasar.  
    c.       Dekat, disukai, dihormati, dipercaya dan menjadi tempat bertanya siswa.
    d.      Instruksinya didengar, diperhatikan dan diikuti oleh siswa.
    2.      Sikap guru semangat, antusias dan gembira
    Suasana dan sikap mental guru selalu menginduksi (nyetrum) pada siswa. Sikap siswa dalam belajar ditentukan oleh sikap gurunya. Guru yang bersemangat, antusias dan gembira akan membuat siswa bersikap sama. PAKEM hanya akan berjalan menarik dan efektif mengantarkan pada keberhasilan bila guru mengajar dengan sikap demikian.
    Semangat berarti kemauan keras membuat siswa berhasil. Sikap antusias berarti guru tertarik dengan materi yang sedang dipelajari dan mengajar dengan penuh empati. Gembira berarti guru memang menikmati pekerjaannya.
    3.      Sikap guru bersahabat dan terbuka
    PAKEM membutuhkan guru yang mampu bersikap bersahabat pada siswanya. Sebagaimana nabi yang menempatkan murid-muridnya sebagai sahabat, gurupun seharusnya demikian. Di antara sikap yang mencerminkan bahwa seorang guru mampu bersikap bersahabat dan terbuka adalah:
    a.      Guru dekat dengan siswa, bukan menjaga jarak.
    b.      Memberi kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, memberi masukan dan sebagainya.
    c.       Menghindari sikap menyalahkan siswa.
    d.      Sedapat mungkin menghindari amarah.
    4.      Guru cerdas dan kreatif
    Prasyarat paling berat dari penerapan PAKEM adalah kebutuhan atas guru yang cerdas dan kreatif. Hal ini dikarenakan PAKEM menuntut kemampuan guru untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif menggali pengetahuan, efektif mengantarkan pada tujuan pembelajaran, bervariasi dalam strategi, metode dan media, serta menarik.
    5.      Guru mampu mengendalikan emosi dan mengelola energinya sendiri.
    Prasyarat tambahan untuk penerapan PAKEM yang efektif adalah kemampuan guru mengendalikan emosi dan mengelola energi. Prasyarat ini merupakan kelengkapan dari prasyarat sebelumnya terutama prasyarat kedua dan ketiga.
    Selain di sekolah guru juga manusia biasa yang kadang dihadapkan pada berbagai persoalan hidup. Guru PAKEM harus mampu memilahkan persoalan yang dihadapi di luar kelas dengan tugas profesionalnya. Selain itu, alokasi waktu pembelajaran yang panjang di sekolah menuntut guru mampu mengelola energinya secara kreatif, dengan cara mengupayakan siswa aktif dan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah.

  • PAKEM (PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF DAN MENYENANGKAN)


    Pembelajaran PAKEM sudah banyak diulas oleh banyak pihak dengan beragam persepsi dan konotasi. Sebagian menjabarkannya secara konseptual, sebagian lain lebih menekankan sisi teknis, dan tidak jarang pula yang menekankan sisi yuridis. Paparan kali ini sangat boleh jadi hanya akan memperkaya khazanah tersebut, sekalipun sangat boleh jadi berbeda sama sekali.
    DARI PENGAJARAN KE PEMBELAJARAN
    Istilah “pembelajaran” merupakan salah satu unsur penyusun akronim PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Di lingkungan pendidikan di Indonesia, penggunaan istilah “pembelajaran” sedemikian popular, menggeser istilah pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang biasa digunakan sebelumnya, yaitu pengajaran (instructional).
    Perubahan istilah tersebut dilakukan berkaitan dengan diusungnya paradigma baru pendidikan yang dicanangkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Paradigma pendidikan di Indonesia sebelumnya lebih dekat pada filsafat esensialisme dan pendekatan tradisional. Dalam praktiknya, paradigma tersebut lebih pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered). Sementara paradigma baru konon berpijak pada paham konstruktivistik, yang dalam praktiknya mengedepankan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered).
    Istilah pembelajaran (learning) memiliki konotasi berbeda dari pengajaran (teaching atau instruction). Istilah pengajaran lebih mencerminkan proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, sementara istilah pembelajaran lebih bermakna pemberdayaan, yaitu usaha membuat siswa belajar, dan membangun pengetahuannya sendiri.
    TENTANG PAKEM
    Istilah PAKEM tampaknya merupakan hasil kreasi para perancang kurikulum pendidikan nasional. Berdasarkan pola dan model pendekatan pembelajaran yang biasa digunakan, istilah tersebut jelas sekali berasal dari konsep pembelajaran aktif (active learning) yang berkembang di negara-negara Barat beberapa waktu terakhir. Konsep tersebut dipadukan dengan pembelajaran kuantum (quantum teaching dan quantum learning) yang pola pendekatan menyerupai pembelajaran aktif.
    Istilah kreatif, efektif dan menyenangkan dalam akronim tersebut merupakan konsekwensi dari pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa dalam menggali dan membangun pengetahuan untuk dirinya sendiri. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan siswa sebagaimana sebelumnya. Peran guru berubah menjadi fasilitator dan dinamisator pembelajaran, yang bertugas:
    1.      Memfasilitasi atau mewadahi kegiatan belajar siswa.
    2.      Membangun suasana belajar yang kondusif sehingga siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar.
    3.      Mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai tujuan yang diharapkan.
    Perubahan peran tersebut menuntut guru yang mampu mengembangkan berbagai kreasi dalam mengembangkan model-model pembelajaran. Guru merupakan perancang skenario demi skenario kegiatan yang mendorong siswa belajar secara terarah (efektif), penuh semangat, saling bekerja sama, dan tanpa beban.
    Pendekatan active learning diyakini efektif untuk mengantarkan pada tujuan pembelajaran. Ibaratnya, siswa diminta mengisi botol dengan air. Botol yang dipegang oleh siswa akan jauh lebih cepat terisi bila siswa aktif berusaha mengisinya sendiri, dibandingkan bilamana guru yang mengisikan air ke botol siswa satu-persatu.
    Istilah menyenangkan merupakan konsekwensi dari pembelajaran model ini. Istilah menyenangkan dapat berarti menggembirakan (fun), membangkitkan gairah (passioning) belajar, dan mempesona atau menarik perhatian (attractive). Agar siswa aktif berusaha mengumpulkan pengetahuan, mereka harus terbebas dari rasa takut, bahkan berani melakukannya dengan penuh semangat dan senang hati.
  • WHAT WE DO

    We've been developing corporate tailored services for clients for 30 years.

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Karya Nyata Ragam Kerajinan

    • Street :Road Street 00
    • Person :Person
    • Phone :+045 123 755 755
    • Country :POLAND
    • Email :contact@heaven.com

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.